Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Tunawisma yang Meninggal di Prancis Tetap Dikubur Secara Layak

Nur Aivanni
31/3/2020 21:25
Tunawisma yang Meninggal di Prancis Tetap Dikubur Secara Layak
Pemandangan di Rue de Rivoli, Paris, Prancis yang kosong akibat pemberlakuan lockdown di negara itu.(AFP/Martin BUREAU)

Sebuah bel berbunyi memecah kesunyian pemakaman ketika lima anggota persaudaraan amal dari Saint Eloi di Bethune melepaskan topi runcing mereka. Semua mengenakan jubah hitam, sarung tangan putih, dan juga masker.

Didirikan delapan abad yang lalu, badan amal ini melanjutkan misinya untuk memberikan penguburan yang layak bagi para tunawisma bahkan selama pandemi virus covid-19.

"Peran kami tetap sama. Terlepas dari status sosial orang yang meninggal. Kami melakukan hal yang persis sama," Robert Guenot, provost badan amal itu kepada AFP.

Ada 25 anggota sukarelawan  Saint Eloi. Mereka mengubur hampir 300 orang mati setiap tahun. Namun wabah covid-19 mengubah beberapa hal. Contohnya, covid-19 telah menyebabkan pemerintah menetapkan karantina wilayah atau lockdown di Prancis. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Begitu pula dengan jumlah pelayat di pemakaman yang terbatas, kira-kira 20 orang. Ini semua memaksa organisasi tersebut untuk menyesuaikan tradisi dan ritualnya.

"Kami mengurangi kegiatan kami karena tidak ada lagi upacara keagamaan, tetapi kami juga mengurangi kehadiran kami. Sekarang hanya ada lima sukarelawan per layanan. Padahal biasanya 11 orang," kata Guenot yang berusia 72 tahun.

Baca juga: Prancis Laporkan 365 Kematian Akibat Covid-19 dalam 24 Jam

Mereka juga melakukan tindakan pencegahan agar tidak tertular covid-19. "Kami berusaha melindungi diri kami semaksimal mungkin. Siapa pun yang merasa sakit ditolak untuk ikut dalam layanan. Kami tidak mau ambil risiko," kata Patrick Tijeras, 55, yang menjadi anggota Saint Eloi sejak November lalu.

"Kami merasa bahwa kami memiliki nilai sosial," kata Tijeras. "Sama seperti orang yang sakit yang punya hak untuk dirawat, maka orang yang sudah mati memiliki hak untuk pelayanan yang bermartabat ini," tambahnya.

Pada suatu pagi baru-baru ini, suasana pemakaman sepi. Almarhum adalah seorang pria tunawisma berusia 34 tahun yang tidak memiliki keluarga atau teman yang dikenal. Di sekitar peti mati kayu berwarna terang, anggota badan amal itu berkumpul untuk mengheningkan cipta.

Begitu upacara berakhir, kelima pria itu berkumpul mengelilingi sebuah lingkaran yang digambar di tanah. "Saya berterima kasih kepada kalian karena menerima panggilan ini. Di masa-masa sulit ini, senang bisa melanjutkan apa yang telah kami lakukan selama 832 tahun," kata Guenot kepada anggota lainnya.

Di seluruh benua, keluarga-keluarga yang berduka harus mengatasi trauma tambahan akibat berbagai pelarangan atau pembatasa untuk menghentikan penyebaran pandemi, seperti aturan ketat yang membatasi perjalanan atau partisipasi dalam pemakaman.

Selama masa inilah, kata Guenot, peran asli persaudaraan dipulihkan. "Kami ingin terus memberikan sedikit dukungan dan kenyamanan kepada keluarga, yang tidak bisa lagi ditemukan satu dengan lainnya," kata Guenot.

Anggota lainnya, Pierre Decool, 66, mengatakan virus covid-19 membuat dia dan teman-temannya takut sekaligus sedih. "Tapi kami punya masker ini dan kami harus membantu orang lain," ujarnya.

Menurut Pierre, ini adalah situasi yang menyakitkan. "Nenek moyang kita juga mengalaminya, tapi kita akan melewatinya," pungkasnya. (AFP/OL-14)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bude
Berita Lainnya