Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM Peneliti dari Imperial College London memulai langkah baru dalam upaya menemukan baksin virus korna baru (2019-nCoV) yang kini telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan menginfeksi lebih dari 43 ribu orang di seluruh dunia.
Peneliti Imperial College London Paul McKay mengatakan, timnya mulai melakukan uji coba vaksin virus korona tehadap tikus yang disuntikkan virus tersebut.
"Kami berharap selama beberapa minggu ke depan kami akan dapat menentukan respons yang dapat kita lihat pada tikus-tikus itu, dalam darah mereka, respons antibodi mereka terhadap virus korona," kata McKay.
Namun, vaksin tersebut tidak serta-merta akan segara dilakukan uji klinis kepada manusia karena serangkaian tes terhadap hewan harus terus dilakukan sampai sampel vaksin dinyatakan bisa digunakna dalma uji klinis kepada manusia.
Baca juga : Indonesia Awasi Ketat Orang yang Masuk dari Singapura
Namun, terus merebaknya virus korona hingga menginfeksi warga di lebih dari dua lusin negara membuat ilmuwan di dunia berlomba mempercepat upaya menemukan vaksin virus korona.
"Kami berharap menjadi yang pertama yang memasukkan vaksin khusus ini ke uji klinis manusia, dan itu mungkin adalah tujuan pribadi kami," kata McKay.
"Setelah fase satu percobaan selesai, yang bisa memakan waktu beberapa bulan, kami dapat segera mulai menjadi percobaan kemanjuran pada manusia, yang juga akan memakan waktu beberapa bulan untuk sampai selesai," tambah McKay.
"Jadi, mungkin pada akhir tahun ini akan ada vaksin teruji yang layak untuk digunakan pada manusia," tandasnya. (OL-7)
Cacar api bisa muncul saat imun menurun, terutama usia 50+. Ketahui waktu tepat vaksin herpes zoster (Shingrix), dosis, manfaat, dan siapa yang perlu konsultasi.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Vaksin yang sedang diuji adalah V181-005, sebuah formulasi baru yang berpotensi memberikan perlindungan yang lebih cepat dan efisien.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Kanker serviks saat ini merupakan penyakit penyebab kematian nomor 2 di Indonesia.
Pneumonia merupalan penyebab utama kematian pada balita, yang menurunkan fungsi alveolus pada paru-paru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved