Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Cegah Virus Nipah dengan PHBS, Vaksin Diperkirakan Baru Siap 3-5 Tahun Lagi

Basuki Eka Purnama
03/2/2026 07:55
Cegah Virus Nipah dengan PHBS, Vaksin Diperkirakan Baru Siap 3-5 Tahun Lagi
Sejumlah siswa mempraktikkan cara mencuci tangan dengan benar di Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) 11 Aceh Barat Desa Kuta Padang, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh.(ANTARA/Syifa Yulinnas)

HINGGA saat ini, dunia medis belum memiliki vaksin yang efektif untuk menangkal penularan virus Nipah. Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A Subsp.IPT, menekankan bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi garda terdepan dalam menekan risiko penularan.

Dalam sebuah webinar bersama IDAI di Jakarta, dikutip Selasa (3/2), Dominicus menjelaskan bahwa prinsip dasar PHBS sebenarnya bersifat universal dan sederhana, yakni memastikan kebersihan tubuh dari unsur luar.

“Secara umum PHBS itu berlaku universal. Intinya adalah membersihkan semua yang menempel, yang bukan dari kita, cuci tangan dengan air mengalir adalah yang terbaik, menggunakan sabun,” ujar Dominicus.

Ia menambahkan, dalam kondisi darurat ketika akses terhadap air bersih dan sabun terbatas, masyarakat dapat menggunakan alternatif lain seperti cairan pembersih tangan berbasis alkohol glycerin. 

Kebiasaan ini harus ditingkatkan kembali, terutama sebelum mengonsumsi makanan atau setelah melakukan kontak fisik dengan orang lain.

Proteksi Melalui Kebersihan Makanan

Selain kebersihan tangan, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Airlangga ini juga mengingatkan pentingnya mencuci bahan makanan secara menyeluruh. Hal ini bertujuan untuk mencegah kontaminasi virus Nipah yang mungkin terbawa melalui liur hewan yang menempel pada buah atau makanan lainnya.

Dominicus memberikan perbandingan optimistis terkait efektivitas cuci tangan pada virus Nipah dibandingkan virus lain seperti Ebola.

“Kalau cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, liur itu bersih. Itu risiko kena nipah menjadi tidak. Ini tidak berlaku untuk Ebola, untungnya Ebola di kita enggak ada. Kalau Ebola itu, walaupun cuci tangan dilakukan dengan baik, belum tentu bisa menghambatnya. Tapi nipah ini bisa. Jadi, saya kira kalau kita cuci tangan dengan baik, enggak kena kita,” tuturnya.

Perkembangan Vaksin dan Gejala Medis

Terkait upaya medis jangka panjang, Dominicus mengungkapkan bahwa pengembangan vaksin Nipah saat ini masih dalam tahap uji fase kedua di Oxford, Inggris. Proses ini diprediksi masih memerlukan waktu yang cukup lama.

“Masih membutuhkan waktu sekitar tiga atau lima tahun lagi untuk vaksin ini bisa digunakan pada manusia,” jelasnya. 

Ia juga menegaskan bahwa vaksin-vaksin yang saat ini beredar luas di Indonesia belum ada yang terbukti memiliki efek pencegahan terhadap virus Nipah.

Masyarakat juga diminta waspada terhadap masa inkubasi virus yang berkisar antara 4 hingga 12 hari. 

Gejala awal umumnya menyerupai penyakit virus pada umumnya, seperti flu, demam, nyeri kepala, nyeri otot, hingga muntah. Namun, penyakit ini patut diwaspadai karena memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi jika sudah menyerang sistem saraf (infeksi otak) yang menyebabkan penurunan kesadaran, serta menyerang saluran pernapasan berupa pneumonia. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya