Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Teror Landa Jaringan Minyak Saudi

Tesa Oktiana Surbakti [email protected]
16/5/2019 06:20
 Teror Landa Jaringan Minyak Saudi
Peta wilayah Teluk menunjukkan serangan drone 14 Mei di stasiun pompa minyak Saudi dan 12 Mei "serangan sabotase" pada kapal di Selat Hormuz(AFP)

SERANGAN sejumlah drone yang diklaim dilakukan pemberontak Yaman yang bersekutu dengan Iran menyebabkan jaringan pipa minyak utama Arab Saudi berhenti beroperasi. Tindakan tersebut meningkatkan ketegangan di wilayah Teluk Persia setelah sabotase misterius beberapa kapal tanker terjadi sebelumnya.

Pipa sepanjang 1.200 kilometer yang diserang pada Selasa waktu setempat itu berfungsi sebagai jalur alternatif ekspor minyak mentah Saudi. Iran sendiri diketahui berulang kali mengancam penutupan wilayah selat apabila terjadi konfrontasi militer dengan AS.

Serangan jaringan pipa terjadi setelah Uni Emirat Arab mengungkapkan empat unit kapal rusak dalam serangan sabotase di sekitar Selat Hormuz.

Amerika Serikat dan para sekutu Teluknya tidak segera menyalahkan Iran atas sabotase tersebut, tetapi Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak melakukan tindakan yang membahayakan kepentingan AS.

Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih, mengatakan Saudi Aramco telah menghentikan operasional pipa sementara waktu.

Perusahaan milik negara itu tengah mengevaluasi kondisi fasilitas, tetapi memastikan kegiatan produksi dan ekspor minyak tidak terganggu.

"Insiden itu ialah aksi terorisme yang tidak hanya menargetkan objek milik Kerajaan Saudi, tetapi juga keamanan pasokan minyak dan ekonomi secara global," tegas Khalid.

Sementara itu, juru bicara kelompok pemberontak Huthi, Mohammed Abdulsalam, mengatakan serangan itu sebagai respons terhadap agresor yang terus melancarkan genosida terhadap Yaman.

Kelompok Huthi memperingatkan operasi khusus bakal terus berjalan jika para agresor melanjutkan aksi kejahatan dan blokade di Yaman.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais, mengecam serangan terhadap dua kilang minyak milik perusahaan Aramco.

Menurut dia, tindakan itu teror yang tidak dibenarkan dalam syariat Islam. Dia juga mengungkapkan penghargaannya yang tinggi terhadap para petugas keamanan yang bertindak cepat.

Tak mau bertikai

Meski ketegangan terus meningkat, AS dan Iran berupaya menghindari jalan peperangan terbuka. "Pada dasarnya, kami tidak menginginkan perang dengan Iran," ujar Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, di Sochi.

Senada, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menekankan perseteruan kali ini tidak melibatkan militer karena dia meyakini perang dengan AS tidak akan terjadi.

"Pertarungan ini tidak berkaitan dengan militer karena tidak ada perang. Baik Iran maupun AS, tidak menginginkan perang. Mereka (AS) tahu bahwa itu bukan prioritasnya," tutur Khamenei, dikutip dari situs resminya.

"Keputusan pasti bangsa Iran ialah bertahan melawan AS," kata dia seraya menekankan dalam pertarungan ini, AS akan dipaksa mundur karena tekad Iran diyakini lebih kuat.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan negosiasi dengan AS bagaikan pengaruh buruk sebab AS berupaya merampas rudal dan kekuatan strategis Iran.

"Bernegosiasi dengan pemerintah AS saat ini dua kali lipat berbahaya. Mereka bukan manusia biasa, mereka tidak berdiri pada sisi mana pun," pungkas Khamenei, merujuk pada keputusan Amerika Serikat untuk belakangan menarik diri dari perjanjian nuklir tahun 2015 antara Iran dan negara-negara utama dunia, seperti Eropa, Rusia, dan Tiongkok. (AFP/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik