Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA Rabu (1/4) pukul 18.24 EDT nanti akan menjadi penanda misi eksplorasi manusia ke Bulan dalam peluncuran penerbangan Misi Artemis II NASA. Misi ini merupakan peluncuran berawak pertama roket Space Launch System (SLS) NASA dan pesawat ruang angkasa Orion.
Artemis II akan membawa empat astronot yang direncanakan melakukan perjalanan di Bulan selama sepuluh hari. Artemis II bertujuan untuk menguji teknologi yang diperlukan dalam eksplorasi Bulan jangka panjang dan misi manusia ke Mars.
Menuju peluncuran Artemis II, para insinyur sedang menghidupkan perangkat keras penerbangan, memeriksa tautan komunikasi, dan mempersiapkan sistem kriogenik roket untuk urutan pengisian bahan bakar yang diperlukan guna memuat ratusan ribu galon hidrogen cair super dingin dan oksigen cair.
Para insinyur tersebut melakukan pemeriksaan pada keempat mesin RS-25 roket menjelas operasi kriogenik. Mereka memastikan bahwa sensor, koneksi, dan diagnostik dari mesin RS-25 berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, mereka juga telah memastikan konfigurasi SLS yang aman dan stabil.
Di sisi lain, pesawat ruang angkasa Orion telah diisi penuh baterai penerbangannya sekaligus dilakukan pengecekan daya untuk avionik, sistem pendukung kehidupan, dan komunikasi selama peluncuran dan penerbangan awal.
Yang terbaru, NASA melaporkan bahwa para insinyur tengah mengisi tangki besar sistem peredam suara dengan air yang berguna melepas semburan pelindung saat lepas landas nantinya guna melindungi kendaraan dari deru mesinnya sendiri.
Menjelang peluncuran, persiapan semakin fokus pada operasi untuk mendukung awak. Para insinyur telah melakukan pemeriksaan kebocoran regulator pada pakaian antariksai para astronot di dalam Orion dan memverifikasi segel kedap udara sekaligus sistem kontrol tekanan.
Dalam Artemis II, terdapat empat astronot NASA yang bertugas, yaitu Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Keempat astronot tersebut telah menghabiskan fase hitung mundur terakhir dengan berfokus pada kesiapan dan verifikasi teknis sekaligus berada dalam karantina di bawah pengawasan kesehatan yang ketat.
Para astronot juga telah menyelesaikan pemeriksaan medis guna memastikan kebugaran tubuh mereka untuk peluncuran nantinya. Selain itu, mereka telah mengikuti jadwal tidur dan rencana nutrisi yang terkontrol untuk menjaga energi dan hidrasi sambil terus menerima pembaruan rutin mengenai konfigurasi roket dan kondisi cuaca dari ruang awak.
Di Kompleks Peluncuran 39B, para insinyur akan mengubah lingkungan landasan peluncuran menuju konfigurasi akhirnya. Semua personel akan meninggalkan area tersebut dan hanya akan menyisakan para spesialis yang dibutuhkan dalam tugas pra-peluncuran yang tersisa.
Pada dini hari di hari peluncuran, tim akan mengaktifkan komponen penting berupa pengatur urutan peluncuran darat yang secara otomatis akan mengatur ribuan perintah di menit-menit terakhir sebelum lepas landas, seperti mengelola pergerakan katup, transisi sistem, dan isyarat waktu untuk mempersiapkan roket.
Terakhir, para insinyur akan memulai peralihan udara menjadi nitrogen gas dalam rongga roket sebagai langkah keselamatan penting yang menggantikan udara atmosfer dengan gas nitrogen inert.
NASA telah menyiarkan hitung mundur peluncuran Misi Artemis II di akun YouTube resmi mereka. (Asha Bening Rembulan/E-4)
Kebakaran tragis dalam kapsul Apollo 1 menewaskan tiga astronaut NASA dalam hitungan detik. Simak kronologi lengkap dan penyebab di balik insiden ini.
NASA telah membentuk Planetary Defense Coordination Office sejak 2016 untuk memantau objek-objek dekat Bumi (near-Earth objects/NEO).
Menurut laporan NASA, cahaya matahari membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk mencapai bumi.
Berbeda dengan misi Apollo program yang hanya melibatkan pria, kru Artemis II mencerminkan keberagaman, termasuk perempuan, individu kulit berwarna, dan astronot non-AS.
Misi ini dinilai sebagai langkah maju dalam strategi mitigasi risiko tumbukan asteroid yang berpotensi menyebabkan kerusakan besar di Bumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved