Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Gen atau Gaya Hidup: Mana yang Lebih Menentukan Panjang Umur?

Abi Rama
01/4/2026 16:27
Gen atau Gaya Hidup: Mana yang Lebih Menentukan Panjang Umur?
Gen hanya berkontribusi sekitar 25% terhadap usia panjang.(Dok. Freepik)

PERDEBATAN, soal apakah gen menentukan panjang umur masih terus bergulir di dunia ilmiah. Namun, temuan yang dirangkum dari MedlinePlus menunjukkan satu hal yang cukup jelas, gen memang berperan, tetapi bukan penentu utama.

Para peneliti sepakat bahwa umur panjang (longevity) dibentuk oleh kombinasi genetik, lingkungan, dan gaya hidup. Menariknya, kontribusi genetik terhadap variasi usia manusia diperkirakan hanya sekitar 25%. Dengan kata lain, sebagian besar kendali atas panjang umur justru berada di luar faktor bawaan lahir.

Sejak awal abad ke-20, peningkatan kualitas lingkungan telah mendorong lonjakan harapan hidup. Akses terhadap makanan bergizi, air bersih, hunian layak, serta kemajuan layanan kesehatan berhasil menekan angka kematian, terutama pada bayi dan anak. Saat ini, harapan hidup di negara maju seperti Amerika Serikat telah mencapai sekitar 80 tahun.

Gaya Hidup: Faktor Penentu di Sebagian Besar Usia

Dalam tujuh hingga delapan dekade pertama kehidupan, gaya hidup terbukti lebih dominan dibandingkan genetik. Pola makan sehat, tidak merokok, konsumsi alkohol yang terkendali, serta aktivitas fisik rutin menjadi fondasi utama umur panjang.

Hal ini terlihat jelas pada kelompok lansia usia 90 tahun (nonagenarian) hingga lebih dari 100 tahun (centenarian). Mereka umumnya menjalani hidup dengan pola yang seimbang, mengelola stres dengan baik, menjaga aktivitas, dan relatif terhindar dari penyakit kronis seperti hipertensi, jantung, kanker, dan diabetes.

Bukan hanya panjang umur, kualitas hidup mereka pun cenderung lebih baik. Banyak di antaranya tetap mandiri hingga mendekati akhir hayat.

Gen Tetap Berperan

Meski gaya hidup mendominasi di usia muda hingga paruh baya, peran genetik menjadi lebih signifikan setelah usia 80 tahun. Riwayat keluarga dengan umur panjang sering kali mencerminkan pola serupa pada generasi berikutnya.

Kerabat dekat dari individu berusia panjang umumnya memiliki kondisi kesehatan lebih baik dan risiko penyakit terkait usia yang lebih rendah. Bahkan jika penyakit muncul, onset-nya cenderung lebih lambat.

Secara biologis, gen tertentu diketahui berkontribusi pada umur panjang, mulai dari perbaikan DNA, perlindungan telomer, hingga mekanisme pertahanan sel terhadap radikal bebas. Gen yang mengatur metabolisme lemak, peradangan, serta fungsi jantung dan sistem imun juga berperan dalam menekan risiko penyakit serius seperti stroke dan penyakit jantung.

Pelajaran dari “Zona Umur Panjang” Dunia

Penelitian juga menyoroti wilayah dengan konsentrasi penduduk berusia panjang, seperti Okinawa (Jepang), Ikaria (Yunani), dan Sardinia (Italia). Meski berbeda budaya, wilayah ini memiliki benang merah: gaya hidup sederhana, pola makan alami, dan tingkat stres yang relatif rendah.

Sardinia, misalnya, dikenal memiliki proporsi pria berusia 100 tahun yang tinggi. Fenomena ini memicu studi lebih lanjut tentang interaksi antara hormon, gen spesifik jenis kelamin, dan lingkungan.

Gen memberi fondasi, tetapi gaya hidup menentukan hasil akhirnya.

Memiliki “warisan gen panjang umur” tidak otomatis menjamin usia panjang tanpa didukung kebiasaan sehat. Sebaliknya, siapa pun dapat meningkatkan peluang hidup lebih lama, dan lebih berkualitas, melalui pilihan hidup sehari-hari. (MedlinePlus/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya