Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS child grooming atau upaya manipulasi terhadap anak untuk tujuan eksploitasi seksual kian mengkhawatirkan. Orang tua dituntut untuk lebih peka dan membangun komunikasi yang kuat, guna mendeteksi dini jika anak terjebak dalam situasi berbahaya ini.
Child grooming sendiri merupakan proses manipulatif terhadap anak di bawah usia 18 tahun. Pelaku biasanya membangun kepercayaan dan kedekatan emosional secara bertahap agar anak merasa aman, yang pada akhirnya berujung pada eksploitasi seksual.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ariani, mengungkapkan sejumlah indikasi yang patut diwaspadai orang tua. Menurutnya, salah satu ciri utama adalah perubahan interaksi sosial anak.
"Anak mulai banyak berbicara tentang orang dewasa atau individu yang jauh lebih tua. Mereka juga cenderung ingin menghabiskan banyak waktu bersama orang tersebut, bahkan berusaha untuk bertemu secara sembunyi-sembunyi atau sendirian," ujar Ariani dalam sebuah diskusi daring, Selasa (31/3).
Beberapa tanda peringatan (red flags) lainnya yang perlu diperhatikan meliputi:
Selain perubahan sikap, orang tua juga harus jeli melihat kepemilikan barang-barang baru yang tidak jelas asalnya. Ariani menekankan bahwa pemberian hadiah merupakan salah satu taktik paling umum dalam grooming.
"Ciri red flag yang nyata adalah ketika anak memiliki barang mewah seperti mainan baru, pakaian, perhiasan, atau perangkat elektronik yang tidak mampu dibeli oleh anak seusianya, dan mereka enggan menjelaskan dari mana barang itu berasal," tegasnya.
Di era digital, grooming juga marak terjadi secara daring (online grooming). Orang tua perlu waspada jika anak sering melakukan komunikasi rahasia pada malam hari.
"Sering menelepon malam-malam, melakukan video call, atau Zoom dengan orang yang tidak dikenal oleh keluarga. Ini sering terjadi pada kasus child grooming online," tambah Ariani.
Segala bentuk perubahan perilaku pada anak harus dianggap sebagai "alarm" bagi orang tua. Kedekatan emosional dan keterbukaan komunikasi adalah kunci utama untuk melindungi anak dari ancaman predator seksual.
Ariani memungkasi bahwa orang tua harus selalu sadar (aware) dan menaruh kecurigaan yang sehat jika menemukan kejanggalan pada sikap anak. Deteksi dini dapat mencegah dampak psikologis dan fisik yang lebih dalam bagi masa depan anak.
BUKU Aurelie Moeremans yang berjudul Broken Strings mendadak viral karena keberaniannya mengungkap sisi gelap industri hiburan dan pengalaman pribadinya sebagai korban child grooming.
Pemerintah Austria resmi mengumumkan rencana pelarangan media sosial untuk anak usia di bawah 14 tahun demi melindungi kesehatan mental dari algoritma adiktif.
Pemerintah Inggris menggelar uji coba pembatasan media sosial pada ratusan remaja. Mulai dari blokir total hingga jam malam digital untuk kaji dampaknya pada kesehatan mental.
Kemenkes tegaskan PP Tunas (PP 17/2025) jadi tonggak perlindungan anak di dunia digital. Simak aturan batas usia 16 tahun untuk medsos berisiko tinggi.
Psikolog klinis Anna Aulia ungkap efektivitas terapi seni (art therapy) dalam memulihkan kondisi psikologis anak korban bencana banjir di Aceh Tamiang.
Mark Zuckerberg bersaksi di pengadilan Los Angeles terkait keamanan Instagram bagi remaja. Terungkap dokumen internal soal efek negatif filter kecantikan dan data pengguna di bawah umur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved