Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Pemanfaatan Kalsifikasi Koroner: Strategi Baru dalam Pencegahan Penyakit Jantung

Basuki Eka Purnama
30/3/2026 09:22
Pemanfaatan Kalsifikasi Koroner: Strategi Baru dalam Pencegahan Penyakit Jantung
Ilustrasi(Freepik)

PENYAKIT Kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) masih menjadi tantangan kesehatan global yang mematikan. Data World Health Organization (WHO) tahun 2022 mencatat penyakit ini menyebabkan 19,8 juta kematian atau 32% dari total kematian dunia. Di Indonesia, prevalensi penyakit jantung melonjak signifikan mencapai 1,08% atau sekitar 2,29 juta orang pada 2023.

Fenomena ini mendorong pentingnya peran ahli dalam mengembangkan strategi pencegahan dini. Fokus inilah yang diangkat Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI, saat dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah, Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), pada 28 Maret 2026.

Jendela Memahami Penuaan Arteri

Dalam orasi ilmiah bertajuk "Kalsifikasi Koroner: Jendela untuk Memahami Penuaan Dinding Arteri Menuju Pencegahan Kardiovaskular Berbasis Risiko", Prof. Antonia menyoroti peran krusial penumpukan kalsium pada dinding arteri koroner. 

MI/HO--Pengukuhan Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah, Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), pada 28 Maret 2026.

Kondisi ini bukan sekadar tanda kerusakan radiologis, melainkan cerminan proses biologis akibat faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Menurutnya, kalsifikasi koroner menjadi "jendela" bagi klinisi untuk melihat proses penuaan arteri (arterial aging) yang sering kali berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun.

“Kalsifikasi koroner memberikan bukti anatomis nyata dari proses aterosklerosis, yaitu kondisi penyempitan dan pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan plak. Semakin tinggi tingkat kalsifikasi, semakin besar kemungkinan adanya plak aterosklerotik yang luas dan bermakna secara klinis," jelas Prof. Antonia.

Pencegahan Presisi Berbasis Teknologi

Prof. Antonia menjelaskan bahwa ketiadaan kalsifikasi dapat memberi keyakinan bagi dokter untuk lebih menekankan pada modifikasi gaya hidup. Sebaliknya, penemuan kalsifikasi memungkinkan intervensi medis yang lebih tepat sasaran dan personal.

Ia juga menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pengukuran kalsifikasi lebih konsisten dan efisien. 

Di Indonesia, teknologi ini relevan untuk skrinning oportunistik, mengingat beban penyakit jantung yang tinggi namun sumber daya layanan kesehatan masih terbatas.

“Kita tidak lagi hanya bergantung pada faktor risiko konvensional, tetapi juga pada bukti langsung dari proses aterosklerosis untuk menentukan langkah terapi yang lebih tepat," pungkas Prof. Antonia. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik