Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Ukuran Celana: Cara Sederhana Deteksi Risiko Obesitas Sentral

Basuki Eka Purnama
26/3/2026 21:16
Ukuran Celana: Cara Sederhana Deteksi Risiko Obesitas Sentral
Ilustrasi(Freepik)

UKURAN celana ternyata bisa menjadi alarm sederhana untuk mendeteksi risiko obesitas sentral, sebuah masalah kesehatan yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menjelaskan bahwa obesitas sentral lebih akurat dikenali melalui lingkar perut ketimbang sekadar angka di timbangan.

“Kalau kita bicara obesitas sentral, paling mudah dilihat dari ukuran celana. Kalau ukurannya makin naik, itu alarm untuk kita,” ujar Nadia, dikutip Kamis (26/3).

Tren Peningkatan di Indonesia

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas sentral di tanah air naik signifikan dari 31% pada 2018 menjadi 36,8% pada 2023. 

Adapun indikator medis yang digunakan adalah:

  • Laki-laki: Lingkar perut lebih dari 90 sentimeter.
  • Perempuan: Lingkar perut lebih dari 80 sentimeter.

Data terbaru dari program Cek Kesehatan Gratis 2025 bahkan menunjukkan bahwa 23,85% peserta dewasa teridentifikasi mengalami obesitas sentral.

Bahaya "Gemuk Perut" yang Tersembunyi

Nadia menyoroti fenomena banyak orang yang merasa sehat karena berat badan terlihat normal, padahal distribusi lemak di area perut sudah melampaui batas aman.

“Kadang orang merasa tidak gemuk, tapi lingkar perutnya sudah di atas batas. Itu yang sering tidak disadari,” tambahnya.

Kondisi ini tidak boleh disepelekan karena obesitas sentral merupakan pemicu utama berbagai penyakit tidak menular (PTM) yang mematikan, seperti:

  • Hipertensi
  • Diabetes
  • Penyakit Jantung
  • Stroke

Langkah Pencegahan

Mengingat obesitas adalah hasil dari akumulasi pola konsumsi dan gaya hidup jangka panjang, Nadia menekankan pentingnya deteksi dini dan perubahan perilaku. Masyarakat dianjurkan untuk memantau lingkar perut serta Indeks Massa Tubuh (IMT) minimal setahun sekali.

“Perubahan kecil seperti mengurangi gula, garam, dan lemak serta rutin bergerak bisa membantu menurunkan risiko,” tutupnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya