Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan kini tidak lagi melihat DNA sekadar sebagai pembawa informasi genetik. Molekul ini mulai dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk membangun robot berukuran sangat kecil, nanorobot.
Di berbagai laboratorium dunia, DNA telah “dilipat” menjadi struktur kompleks yang mampu bergerak, menangkap objek, hingga merespons sinyal tertentu. Terobosan ini membuka peluang besar di bidang medis, termasuk mendeteksi dan menghancurkan sel kanker serta virus langsung di dalam aliran darah.
Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti berhasil menciptakan perangkat sederhana berbasis DNA, mulai dari penjepit mikro, roda gigi, hingga struktur mirip tangan yang dapat membuka dan menutup sesuai perintah.
Tim dari Universitas Peking menyebut DNA kini berfungsi layaknya “perangkat keras” di skala molekuler. Struktur DNA beruntai ganda memberikan kekuatan, sementara untaian tunggal memberi fleksibilitas, memungkinkan gerakan seperti engsel.
Tak hanya di dunia medis, DNA juga dapat berperan sebagai cetakan untuk menyusun material lain dengan presisi ekstrem, bahkan hingga skala sub-nanometer.
Teknologi ini berpotensi digunakan dalam pengembangan perangkat optik, elektronik molekuler, hingga sistem manufaktur ultra-kecil. Dengan DNA, nanopartikel bisa ditempatkan dengan akurasi yang sebelumnya sulit dicapai.
DNA memiliki keunggulan lain, mampu menyimpan data dalam jumlah besar di ruang yang sangat kecil. Bahkan, ilmuwan telah mengembangkan “sirkuit DNA” yang dapat menjalankan logika dasar.
Namun, teknologi ini masih menghadapi keterbatasan. Prosesnya relatif lambat karena bergantung pada interaksi molekul dalam larutan. Selain itu, biaya membaca dan menulis data DNA masih tinggi.
Salah satu tantangan utama adalah efek Gerak Brown, pergerakan acak molekul di lingkungan sekitarnya. Pada skala nano, hal ini dapat membuat struktur DNA bergeser atau berubah bentuk, sehingga sulit dikendalikan. Akibatnya, sebagian besar robot DNA masih berada pada tahap eksperimen laboratorium.
Meski membuat satu robot DNA kini bukan lagi hal sulit, tantangan berikutnya adalah produksi massal yang konsisten dan murah.
Para peneliti mulai memanfaatkan bakteri seperti Escherichia coli untuk memproduksi DNA dalam jumlah besar melalui fermentasi. Metode ini dinilai lebih efisien dibandingkan pembuatan manual.
Ke depan, proses produksi diharapkan menyerupai industri modern, dengan otomatisasi, kontrol kualitas, dan deteksi kesalahan sejak dini.
Para ilmuwan meyakini bahwa robot masa depan tidak hanya terbuat dari logam dan plastik, tetapi juga dari molekul biologis seperti DNA.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari desain, kontrol, hingga produksi, robotika DNA kini semakin mendekati kenyataan. Bukan lagi sekadar konsep fiksi ilmiah.
Jika terus berkembang, nanorobot DNA berpotensi merevolusi dunia medis dengan kemampuan mendeteksi dan mengobati penyakit langsung dari dalam tubuh. (Earth/Z-10)
Ketika diuji di laboratorium pada sel kanker payudara, senyawa ini banyak masuk dan terakumulasi di sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen positif.
Peneliti MIT dan Stanford kembangkan molekul AbLecs untuk menghancurkan sel kanker dengan menargetkan molekul gula (glikan) yang selama ini menghambat sistem imun.
"Pendekatan ini tidak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga mengaktifkan mekanisme alami tubuh,”
Pare atau paria sudah tidak asing di lidah masyarakat Indonesia. Sayuran ini kerap hadir dalam semangkuk siomay atau batagor sebagai lalapan tambahan.
Adapun racun lebah diketahui mampu membunuh sel kanker secara selektif tanpa merusak sel sehat di sekitarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved