Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Dosen IPB Ungkap Risiko Semprot Parfum di Leher bagi Kesehatan

Abi Rama
18/3/2026 12:05
Dosen IPB Ungkap Risiko Semprot Parfum di Leher bagi Kesehatan
Ilustrasi(freepik)

KEBIASAAN menyemprotkan parfum di bagian leher memang umum dilakukan untuk membuat aroma lebih tahan lama. Namun, di balik kebiasaan tersebut, muncul kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kesehatan, khususnya pada kelenjar tiroid.

Dosen dari IPB University, Agil Wahyu Wicaksono, mengungkapkan secara ilmiah terdapat indikasi hubungan antara penggunaan parfum dengan gangguan pada kelenjar tiroid. Meski demikian, kaitannya dengan kanker tiroid masih belum terbukti secara langsung.

“Berdasarkan studi systematic review, kebiasaan menyemprot parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid. Sementara itu, kaitannya dengan kanker tiroid masih bersifat hipotetik dan belum terbukti langsung,” ujar dr Agil.

Ia menjelaskan parfum atau cologne umumnya mengandung bahan kimia seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Zat-zat ini dikenal sebagai endocrine disruptors atau pengganggu sistem hormon.

“Beberapa studi menunjukkan triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh,” jelasnya.

Area leher dinilai lebih rentan terhadap paparan zat kimia

Menurut dr Agil, bahan kimia dalam parfum dapat terserap melalui kulit. Tingkat penyerapannya dipengaruhi oleh lokasi pemakaian, frekuensi, serta durasi penggunaan.

Ia menambahkan, secara anatomi, leher merupakan area yang cukup sensitif karena letaknya dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki lapisan kulit yang relatif tipis.

“Secara anatomi, area leher dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis. Paparan berulang zat seperti phthalates, parabens, dan triclosan di area ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek lokal maupun sistemik,” paparnya.

Efek tidak instan, tapi berisiko jika digunakan berlebihan

Meski demikian, dr Agil menekankan dampak tersebut tidak terjadi secara instan. Efeknya cenderung berkembang dalam jangka panjang dan tidak semua orang akan mengalami gangguan kesehatan.

“Ini tidak berarti semua pengguna parfum akan mengalami gangguan kesehatan. Namun, penggunaan berlebihan dan terus-menerus dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan hormon,” katanya.

Kelompok yang dinilai lebih rentan antara lain ibu hamil, anak-anak, remaja, serta individu dengan gangguan hormon sebelumnya.

Untuk meminimalkan potensi risiko, masyarakat disarankan menggunakan parfum dengan lebih bijak. Salah satu cara yang dianjurkan adalah menyemprotkan parfum pada pakaian, bukan langsung ke kulit.

Selain itu, penggunaan di area sensitif seperti leher dan ketiak sebaiknya dihindari, serta digunakan dalam jumlah yang tidak berlebihan.

“Jika memungkinkan, pilih produk yang berlabel ‘phthalate-free’ atau ‘paraben-free’,” tutup dr Agil. (IPB/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik