Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Pemimpin Muda Indonesia dan Singapura Bersatu Perkuat Kohesi Sosial di Tengah Keberagaman

Basuki Eka Purnama
14/3/2026 22:22
Pemimpin Muda Indonesia dan Singapura Bersatu Perkuat Kohesi Sosial di Tengah Keberagaman
Peserta program Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (BRIDGE) yang digagas Singapore International Foundation (SIF).(MI/HO)

SEBANYAK 30 pemimpin muda dari Singapura dan Indonesia berkumpul di Singapura pada Januari lalu dalam program Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (BRIDGE) yang digagas Singapore International Foundation (SIF). Salah satu pesertanya adalah Sri Nur Ainingsih, kader Fatayat NU.

"Program BRIDGE ini sangat membantu saya untuk lebih berpikir terbuka dan menambah ruang empati yang lebih mendalam," ujar Sri. 

Menurutnya, dua hal ini menjadi pengingat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. 

"Berpikir terbuka dan mempunyai empati yang mendalam akan menjadikan kita tidak mudah melakukan judgment kepada seseorang," ungkap Sri

Belajar dari Cara Singapura Mengelola Keberagaman

Pengalaman yang berkesan bagi Sri antara lain kunjungan ke Harmony in Diversity Gallery, galeri edukasi yang menampilkan pendekatan multiagama Singapura dalam membangun harmoni antaragama. 

Ia juga mengagumi cara program BRIDGE menyusun peserta diskusi dengan memastikan keterwakilan dari masing-masing ras di Singapura.

"Susunan participant di setiap meja dengan keterwakilan masing-masing ras menjadikan diskusi lebih hidup. Ini jadi momen yang sangat dinantikan karena bisa mendengarkan berbagai perspektif," ungkapnya. 

Ia pun merefleksikan bahwa model seperti ini bisa diterapkan di Indonesia.

Dialog Lintas Negara: Ruang Aman bagi Perempuan

Sebagai aktivis perempuan, Sri menyoroti bagaimana dialog lintas negara dapat mendorong peran perempuan dalam pembangunan komunitas. Kuncinya terletak pada kenyamanan dan rasa aman untuk berpendapat.

"Dialog lintas negara ini sangat dapat mendorong perempuan dalam pembangunan komunitas jika setiap forum diskusinya para participant tidak merasa canggung untuk berpendapat, dan ada nilai saling menghargai serta aktif mendengarkan," jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun perspektif bersama melalui analisis studi kasus, sehingga dalam bergerak bersama tidak perlu lagi memperdebatkan apa yang akan dilakukan.

Rustam: Belajar dari Praktik Kohesi Sosial di Indonesia

Kesan mendalam juga diungkapkan Rustam Shariq Mujtaba, peserta asal Singapura yang juga pendiri Project Broken Barges. Sebagai anggota Inter-Religious Organisation (IRO) Youth Wing, Rustam mengaku awalnya merasa percaya diri dengan pemahamannya tentang keharmonisan. Namun diskusi dengan peserta NU membuka matanya.

"Saya merasa sangat rendah hati ketika teman dari Indonesia menjelaskan sejauh mana NU berupaya menjaga keharmonisan, termasuk menugaskan anggotanya menjaga keamanan tempat ibadah pada waktu-waktu penting," ungkap Rustam.

Ia juga mengapresiasi keterbukaan peserta Indonesia dalam berbagi tantangan misinformasi yang dapat memicu ketegangan politik. 

"Diskusi ini berlangsung terbuka, dan saya sangat menghargai percakapan yang jujur tersebut, karena konteks di Singapura tidak banyak menghadapi isu seperti itu," lanjutnya

Teknologi dan Storytelling sebagai Jembatan Budaya

Rustam menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga identitas budaya. 

Menurutnya, upaya mewariskan budaya harus dilakukan dengan sengaja oleh setiap generasi. 

"Sebagai intergenerational storyteller, saya melihat setiap generasi memiliki cara berbeda dalam mempraktikkan budaya. Saat ini banyak ekspresi budaya hadir di ruang digital," jelasnya.

Melalui Project Broken Barges, Rustam memanfaatkan media sosial, AI, dan VR untuk menceritakan kehidupan di kampung masa lalu yang mencerminkan gotong royong dan keharmonisan. 

"Teknologi dan storytelling membantu menghadirkan nilai-nilai abadi ini ke masa sekarang, agar bisa terus kita jaga," kata Rustam.

Pandangan ini selaras dengan rencana Sri yang ingin memanfaatkan media sosial untuk berdialog tentang kohesi sosial sepulang ke Indonesia.

Membangun Kepemimpinan Muda untuk Masa Depan Inklusif

Farah H. Sanwari, Senior Manager SIF, menjelaskan pentingnya investasi pada generasi muda. 

"Pemimpin muda akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan masyarakat yang semakin beragam. Mereka perlu memiliki empati dan pemahaman lintas budaya untuk menjembatani perbedaan."

Ia menegaskan program BRIDGE dirancang untuk menyediakan ruang dialog sejak awal perjalanan kepemimpinan peserta. SIF juga menggunakan indikator seperti kualitas diskusi dan survei sebelum-sesudah program untuk mengukur keberhasilan.

"Prinsip timbal balik menjadi hal penting, pertukaran bermakna hanya terwujud melalui saling menghormati dan saling belajar," tegas Farah.

Soal keberlanjutan, SIF berencana mengadakan pertemuan daring bagi alumni dan menjajaki peluang kolaborasi lain. 

"Tujuannya agar hubungan yang terbangun dapat terus berkembang dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat luas."

Rencana Aksi: Dialog Lintas Agama dan Siaran Langsung

Sepulang dari Singapura, Sri telah menyiapkan langkah konkret. 

"Saya ingin melakukan dialog lintas agama dan ras bersama komunitas di Indonesia, untuk membangun spirit pengetahuan yang sama." 

Ia juga berencana membuka live streaming tentang kohesi sosial melalui media sosial.

Rustam melihat potensi kolaborasi jangka panjang antaralumni. "Dengan memanfaatkan jaringan BRIDGE yang berasal dari berbagai sektor, masyarakat, pemerintah, swasta, teknologi, kesehatan, saya yakin kolaborasi ini dapat terus berkembang."

Menguatkan Jejak Kolaborasi SIF-Indonesia

Program BRIDGE merupakan bagian dari komitmen jangka panjang SIF di Indonesia sejak 1992. Mr Thomas Ardian Siregar, Kuasa Usaha KBRI Singapura, menegaskan pentingnya pertukaran ini. 

"Meskipun berbeda skala dan konteks, kita dipersatukan nilai-nilai bersama seperti harmoni, keberagaman, dan saling menghormati."

Ms Corinna Chan, CEO SIF, menambahkan bahwa BRIDGE adalah katalis kolaborasi yang mempertemukan anak muda kedua negara untuk merumuskan solusi memperkuat kohesi sosial.

Kepemimpinan yang Berawal dari Empati

Bagi Sri, program BRIDGE bukan sekadar pertukaran biasa. Ia pulang dengan keyakinan bahwa menjadi pemimpin di masyarakat multikultural membutuhkan keterbukaan mendengarkan dan keberanian merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Bagi Rustam, pelajaran berharga adalah bahwa menjaga hubungan antar komunitas adalah proses yang terus berlangsung dan tidak selalu mudah.

Dengan dukungan SIF pada keberlanjutan program, ruang-ruang dialog kecil yang mereka bangun diharapkan terus berkembang, di Indonesia, Singapura, dan di antara keduanya (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya