Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Kenapa Vaksin Campak Harus Tepat Waktu? Ini Penjelasan Dokter Anak

Intan Safitri
13/3/2026 18:00
Kenapa Vaksin Campak Harus Tepat Waktu? Ini Penjelasan Dokter Anak
Jadwal Imunisasi Campak sesuai Usia Anak.(Freepik)

KESADARAN orang tua terhadap pentingnya imunisasi kembali diuji setelah Indonesia tercatat menempati peringkat kedua dunia untuk kasus campak pada 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena campak termasuk penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi dan dapat berujung fatal pada anak.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa pemahaman tentang jadwal imunisasi yang tepat menjadi benteng utama untuk melindungi anak dari penyakit ini.

Jadwal Imunisasi Campak sesuai Usia Anak

Masih banyak orang tua yang ragu kapan waktu terbaik membawa anak untuk imunisasi campak atau MR (Measles-Rubella).

Menurut dr. Piprim, antibodi yang diwariskan dari ibu biasanya hanya bertahan hingga bayi berusia sekitar 9 bulan. Setelah periode tersebut, perlindungan alami mulai menurun sehingga anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi.

Karena itu, dosis pertama vaksin MR dianjurkan diberikan pada usia 9 bulan.

Saat ini, mayoritas kasus campak ditemukan pada anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun, sehingga vaksinasi tepat waktu menjadi langkah penting mencegah penyebaran penyakit.

Setelah dosis pertama, anak perlu mendapatkan imunisasi lanjutan:

  • Booster MR pada usia 2 tahun sesuai program pemerintah
  • Booster kedua pada usia 5 tahun untuk memperkuat memori sistem imun

Selain itu, dokter juga menyebut opsi vaksin MMR yang dapat diberikan pada usia 15 bulan, kemudian diulang kembali pada usia 5 tahun untuk perlindungan optimal terhadap campak, gondongan, dan rubella.

Mengapa Cakupan 95% Sangat Penting?

Campak dikenal sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia. Virus ini memiliki angka reproduksi (R0) sekitar 12-18, jauh lebih tinggi dibandingkan covid-19.

Artinya, satu penderita campak dapat menularkan virus kepada belasan orang lainnya jika tidak ada kekebalan dalam komunitas.

Untuk mencegah wabah, cakupan imunisasi di suatu wilayah harus mencapai minimal 95% agar terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

“Kalau turun menjadi 80% saja, Kejadian Luar Biasa sudah bisa muncul,” ujar Piprim.

Ia mencontohkan kasus di Madura yang menunjukkan dampak serius dari rendahnya cakupan imunisasi. Dari 11 anak yang meninggal akibat campak, 10 di antaranya belum pernah menerima vaksin.

Vaksinasi sebagai Perlindungan Sosial

Vaksinasi bukan hanya melindungi satu individu, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan kolektif bagi kelompok yang rentan.

Anak-anak dengan kondisi immunocompromised, seperti penderita kanker, penyakit jantung bawaan, atau gangguan ginjal kronis yang menggunakan terapi steroid, tidak dapat menerima vaksin campak karena vaksin ini menggunakan virus hidup yang dilemahkan.

“Anak-anak immunocompromis ini yang tidak boleh mendapat vaksin. Mereka harus dilindungi oleh lingkungan yang sudah kebal melalui imunisasi. Itu konsep herd immunity,” jelas Piprim.

Karena itu, orang tua yang memastikan anaknya mendapatkan vaksin tepat waktu secara tidak langsung turut melindungi anak-anak lain di sekitarnya yang tidak bisa divaksin.

Dalam situasi peningkatan kasus atau KLB, orang dewasa juga dianjurkan menerima booster MR, terutama jika tinggal serumah dengan bayi di bawah usia 9 bulan yang belum bisa mendapatkan vaksin. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya