Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
KESADARAN orang tua terhadap pentingnya imunisasi kembali diuji setelah Indonesia tercatat menempati peringkat kedua dunia untuk kasus campak pada 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena campak termasuk penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi dan dapat berujung fatal pada anak.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa pemahaman tentang jadwal imunisasi yang tepat menjadi benteng utama untuk melindungi anak dari penyakit ini.
Masih banyak orang tua yang ragu kapan waktu terbaik membawa anak untuk imunisasi campak atau MR (Measles-Rubella).
Menurut dr. Piprim, antibodi yang diwariskan dari ibu biasanya hanya bertahan hingga bayi berusia sekitar 9 bulan. Setelah periode tersebut, perlindungan alami mulai menurun sehingga anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi.
Karena itu, dosis pertama vaksin MR dianjurkan diberikan pada usia 9 bulan.
Saat ini, mayoritas kasus campak ditemukan pada anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun, sehingga vaksinasi tepat waktu menjadi langkah penting mencegah penyebaran penyakit.
Setelah dosis pertama, anak perlu mendapatkan imunisasi lanjutan:
Selain itu, dokter juga menyebut opsi vaksin MMR yang dapat diberikan pada usia 15 bulan, kemudian diulang kembali pada usia 5 tahun untuk perlindungan optimal terhadap campak, gondongan, dan rubella.
Campak dikenal sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia. Virus ini memiliki angka reproduksi (R0) sekitar 12-18, jauh lebih tinggi dibandingkan covid-19.
Artinya, satu penderita campak dapat menularkan virus kepada belasan orang lainnya jika tidak ada kekebalan dalam komunitas.
Untuk mencegah wabah, cakupan imunisasi di suatu wilayah harus mencapai minimal 95% agar terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
“Kalau turun menjadi 80% saja, Kejadian Luar Biasa sudah bisa muncul,” ujar Piprim.
Ia mencontohkan kasus di Madura yang menunjukkan dampak serius dari rendahnya cakupan imunisasi. Dari 11 anak yang meninggal akibat campak, 10 di antaranya belum pernah menerima vaksin.
Vaksinasi bukan hanya melindungi satu individu, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan kolektif bagi kelompok yang rentan.
Anak-anak dengan kondisi immunocompromised, seperti penderita kanker, penyakit jantung bawaan, atau gangguan ginjal kronis yang menggunakan terapi steroid, tidak dapat menerima vaksin campak karena vaksin ini menggunakan virus hidup yang dilemahkan.
“Anak-anak immunocompromis ini yang tidak boleh mendapat vaksin. Mereka harus dilindungi oleh lingkungan yang sudah kebal melalui imunisasi. Itu konsep herd immunity,” jelas Piprim.
Karena itu, orang tua yang memastikan anaknya mendapatkan vaksin tepat waktu secara tidak langsung turut melindungi anak-anak lain di sekitarnya yang tidak bisa divaksin.
Dalam situasi peningkatan kasus atau KLB, orang dewasa juga dianjurkan menerima booster MR, terutama jika tinggal serumah dengan bayi di bawah usia 9 bulan yang belum bisa mendapatkan vaksin. (Z-10)
Indonesia tempati peringkat 2 dunia kasus campak tertinggi. IDAI desak imunisasi kejar dan peringatkan risiko kematian anak akibat cakupan vaksin rendah.
LONJAKAN kasus campak yang terjadi belakangan ini dinilai menjadi indikator menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti meningkatnya kembali kasus campak di sejumlah wilayah Indonesia yang dikaitkan dengan melemahnya herd immunity atau kekebalan kelompok.
HANYA 23 orang yang disuntik vaksin covid-19 dosis keempat atau booster kedua hari ini, Kamis, 16 Maret 2023. Data tersebut dikumpulkan dari Sabang sampai Merauke.
Untuk masyarakat yang telah menjalani vaksinasi kedua juga mengalami kenaikan 10.064 orang, menjadi 174.449.231 orang.
Temukan fakta medis di balik mitos vaksin campak 2026. Mulai dari isu autisme, kandungan babi, hingga keamanan bagi anak alergi telur. Baca selengkapnya!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved