Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Waspada Radang Ginjal Usia Muda, Pernefri Sarankan Rutin Cek Urine

Basuki Eka Purnama
12/3/2026 10:06
Waspada Radang Ginjal Usia Muda, Pernefri Sarankan Rutin Cek Urine
Ilustrasi(Freepik)

KETUA Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB Pernefri), Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap kesehatan ginjal

Deteksi dini melalui pemeriksaan urine dinilai krusial untuk mencegah peradangan ginjal atau glomerulonefritis yang sering kali berakhir dengan kegagalan fungsi ginjal permanen.

Dalam temu media di Jakarta, Rabu (11/3), Pringgodigdo mengungkapkan bahwa radang ginjal merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyerang kelompok usia muda. 

Ironisnya, penyakit ini bersifat senyap karena pada tahap awal cenderung tidak menimbulkan gejala fisik yang nyata.

“Yang di muda-muda udah gagal ginjal kebanyakan itu karena penyakit ini peradangan ginjal, karena enggak pernah periksa urine. Bisa diketahuinya hanya dengan pemeriksaan, karena enggak ada gejala,” tutur Pringgodigdo.

Menurutnya, pemeriksaan laboratorium dapat mendeteksi keberadaan sel darah merah (eritrosit) atau albumin (protein) dalam urine yang seharusnya bernilai negatif. 

Salah satu indikator kasatmata yang kerap diabaikan oleh masyarakat adalah urine yang berbusa atau mengalami perubahan warna.

Kondisi urine yang berbusa menunjukkan adanya kebocoran albumin dalam kadar yang cukup tinggi. 

Sementara itu, urine yang berwarna kemerahan mengindikasikan adanya kandungan darah yang bisa berasal dari ginjal akibat peradangan atau dari saluran kemih.

“Kalau sudah berbusa, berwarna, itu udah tinggi berarti tuh (kadar kebocorannya). Biasanya berwarna kemerahan itu karena ada darah. Darah bisa dari ginjalnya atau dari salurannya. Kalau dari ginjalnya tadi karena peradangannya,” jelas dokter spesialis penyakit dalam lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Selain faktor medis, Pringgodigdo menyoroti pola hidup sebagai pemicu utama. Konsumsi makanan manis yang tinggi kalori dapat memicu obesitas dan diabetes, sementara makanan instan dengan kadar garam tinggi meningkatkan risiko hipertensi. Kedua kondisi ini merupakan pintu masuk utama menuju penyakit ginjal kronis.

Gaya hidup sedentary atau kurangnya aktivitas fisik juga menjadi perhatian serius. Ia menyarankan masyarakat untuk kembali membiasakan aktivitas fisik sederhana seperti berjalan kaki daripada selalu mengandalkan kendaraan bermotor untuk jarak dekat.

Sebagai langkah preventif, Pringgodigdo menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala meskipun tubuh merasa sehat. 

"Kalau enggak ada gejala ya paling enggak setahun sekali gitu diperiksa," imbuhnya. 

Melalui pemeriksaan rutin dan menjaga pola makan, risiko kerusakan ginjal permanen pada usia produktif diharapkan dapat ditekan secara signifikan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya