Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA Maret 2026 diprediksi menjadi waktu terbaik untuk menyaksikan fenomena aurora borealis hingga pertengahan dekade 2030-an. Hal ini terjadi karena adanya perpaduan antara mekanika benda langit dan aktivitas matahari yang sangat kuat.
Menjelang ekuinoks musim semi, posisi Bumi bergeser ke salah satu posisi yang paling mendukung munculnya aurora, sebuah keuntungan yang didukung secara ilmiah dan dikenal sebagai efek ekuinoks.
Secara teknis, cahaya utara atau aurora borealis disebabkan oleh badai geomagnetik yang muncul ketika partikel bermuatan dari matahari bertabrakan dengan gas di atmosfer Bumi. Sekitar tanggal 20 Maret, medan magnet planet kita sejajar sedemikian rupa sehingga memudahkan partikel bermuatan dari angin surya untuk masuk ke atmosfer Bumi.
Menurut data penelitian yang dikutip dari Space.com, aktivitas geomagnetik secara statistik mencapai puncaknya di sekitar ekuinoks Maret dan September, sebuah fenomena yang dijelaskan oleh para ahli cuaca antariksa melalui efek Russell-McPherron.
Waktu Pengamatan yang Paling Ideal
Selain faktor teknis tersebut, langit gelap yang masih bertahan di wilayah garis lintang utara sebelum datangnya siang hari yang tak kunjung usai di musim panas menjadikan bulan Maret sebagai waktu yang sangat ideal. Untuk mendapatkan pemandangan terbaik, kesabaran menjadi kunci utama karena sifat aurora yang sulit ditebak.
Fenomena ini biasanya paling jelas terlihat pada malam yang cerah dan gelap, umumnya antara pukul 10 malam hingga jam 2 pagi waktu setempat saat aktivitas geomagnetik mencapai puncaknya. Sangat disarankan untuk memantau prakiraan aurora harian dan indeks KP guna mengukur peluang kemunculannya.
Lokasi pengamatan yang paling andal berada di dalam zona oval aurora yang melingkari wilayah lintang tinggi seperti Alaska, Kanada utara, Islandia, Greenland, Norwegia, Swedia, dan Finlandia. Namun, selama badai geomagnetik yang kuat, cahaya ini dapat terlihat hingga ke wilayah selatan seperti Amerika Serikat bagian utara dan Eropa Tengah.
Semakin jauh Anda berada di utara dengan kondisi langit yang gelap tanpa polusi cahaya, maka peluang untuk menyaksikan pertunjukan kosmik ini akan semakin besar.
Untuk mempersiapkan diri menyaksikan fenomena ini, pilihlah lokasi yang jauh dari lampu kota dengan pandangan luas ke arah cakrawala utara. Tempat-tempat tinggi dengan polusi cahaya minimal akan memberikan pandangan yang paling jernih. Selain itu, berikan waktu setidaknya 20 menit bagi mata Anda untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan agar dapat menangkap keindahan gelombang cahaya tersebut secara maksimal. (Yahoo, Live Science/P-3)
Seorang astronot di ISS menangkap pemandangan menakjubkan halo bulan di atas atmosfer Bumi.
Sebagian partikel atmosfer Bumi ternyata “bocor” dan berpindah ke permukaan Bulan. Proses ini diduga telah berlangsung selama miliaran tahun.
Atmosfer Bumi tidak selalu kaya oksigen seperti saat ini. Sekitar 3 miliar tahun lalu, hampir tidak ada oksigen bebas di udara.
Warna langit bukan “cat” yang menempel di udara, melainkan efek fisika dari interaksi cahaya Matahari dengan atmosfer Bumi.
Lapisan es purba di Allan Hills, Antartika Timur, terbukti berusia sekitar enam juta tahun. Di dalamnya, tersimpan gelembung udara mikroskopis yang merekam kondisi atmosfer Bumi
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved