Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Chromodoris, Siput Laut Cantik Tapi Mematikan

Abi Rama
04/3/2026 21:08
Chromodoris, Siput Laut Cantik Tapi Mematikan
Siput laut.(dok.University of Queensland, Australia)

SIPUT laut berwarna cerah dari genus Chromodoris selama ini dikenal para penyelam sebagai “kupu-kupu lautan” karena warna mencolok dan pola tubuhnya yang indah. Namun, di balik tampilannya yang memikat, makhluk kecil ini ternyata menyimpan senjata kimia mematikan.

Laporan ini dikutip dari The University of Queensland dan dipublikasikan di jurnal _PLOS One_. Studi ini meneliti lima spesies nudibranch yang berkerabat dekat, dikumpulkan dari kawasan Great Barrier Reef dan wilayah Queensland Tenggara, Australia.

Memilih Racun Paling Mematikan

Dr. Karen Cheney dari School of Biological Sciences UQ menjelaskan bahwa siput laut karnivora ini memang sudah lama diketahui memperoleh racun dari makanan mereka, seperti spons laut. Namun, berdasarkan penelitian tersebut, Chromodoris ternyata tidak menyimpan semua racun yang dikonsumsi. Sebaliknya, Chromodoris justru secara selektif menyimpan satu senyawa tertentu yang sangat berbahaya, yakni Latrunculin A. Senyawa ini dikenal memiliki tingkat toksisitas tinggi.

Uji laboratorium menunjukkan bahwa dalam jumlah sangat kecil sekalipun, Latrunculin A mampu membunuh brine shrimp (udang air asin). Bahkan dalam pengujian lanjutan yang dilakukan di Institute for Molecular Bioscience, senyawa tersebut terbukti lebih beracun terhadap lini sel kanker dibandingkan senyawa lain yang ditemukan pada siput laut.

Warna Cerah jadi Sinyal Bahaya

Penelitian ini juga menyoroti hubungan antara warna tubuh dan tingkat racun. Warna-warna cerah pada Chromodoris diduga bukan sekadar estetika, melainkan bentuk peringatan bagi predator.

Ikan diketahui mengandalkan visual seperti warna terang untuk mengenali mangsa beracun. Strategi ini mirip dengan katak panah beracun dan kupu-kupu berwarna mencolok di daratan, yang menggunakan warna sebagai tanda bahaya.

Namun, para peneliti masih mendalami apakah semakin terang warna Chromodoris berarti semakin tinggi pula kadar racunnya. Mereka juga menyelidiki apakah spesies yang berkamuflase tetap memiliki pertahanan kimia kuat meski tidak menampilkan warna mencolok.

Menariknya, ditemukannya senyawa racun yang sama pada beberapa spesies yang berkerabat dekat menunjukkan bahwa faktor lain mungkin ikut berperan. Predator seperti kepiting, misalnya, diduga menggunakan metode berbeda untuk mendeteksi racun pada mangsanya.

Potensi untuk Dunia Medis

Produk alami seperti Latrunculin A memiliki peran penting dalam proses awal penemuan obat. Para peneliti menilai, pemahaman tentang bagaimana racun ini bekerja di alam berpotensi memberikan petunjuk baru dalam pengembangan terapi kanker maupun penelitian penyakit neurodegeneratif. (The University of Queensland/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya