Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH statistik mengkhawatirkan muncul dari kampanye terbaru Dove, #KeepHerConfident: satu dari dua anak perempuan yang berhenti berolahraga melakukannya karena kritik terhadap tipe tubuh mereka. Data dari Women's Sports Foundation bahkan menyebutkan pada usia 14 tahun, anak perempuan dua kali lebih mungkin berhenti berolahraga dibandingkan anak laki-laki.
Apa yang sebenarnya terjadi? Organisasi olahraga pemuda nasional, i9 Sports, mensurvei lebih dari 1.500 orangtua dan putri mereka untuk mencari tahu jawabannya. Temuannya mengejutkan: bagi anak perempuan, kemenangan berada di urutan terakhir. Mereka bermain untuk membangun keterampilan dan mencari kesenangan.
Berikut adalah faktor utama yang mendorong mereka meninggalkan dunia olahraga dan cara mengatasinya:
Banyak pelatih menggunakan pendekatan "keras" yang berfokus pada latihan fisik repetitif (drills). Padahal, atlet muda lebih menyukai permainan tim. Stephanie Malia Krauss, penulis How We Thrive, menjelaskan kritik berlebihan membuat mereka kehilangan momen menikmati olahraga.
"Ketika perempuan muda tidak memiliki kesempatan untuk 'masuk ke zona nyaman' dan menikmati olahraga mereka dalam waktu lama, karena komentar pelatih, kritik, atau fokus pada latihan fisik dibandingkan bermain, mereka kehilangan kondisi flow," kata Krauss. "Dan tidak ada banyak insentif bagi mereka untuk tetap terlibat."
Saat pubertas, peningkatan lemak tubuh secara alami dapat menurunkan performa sementara. Sayangnya, tidak semua pelatih siap membimbing transisi ini. Rachael Robnett dari Women’s Research Institute of Nevada memperingatkan bahwa banyak atlet perempuan mengalami pelecehan berupa komentar negatif terkait tubuh mereka. "Orangtua sebaiknya memuji usaha dan kerja keras, bukan bakat, sehingga saat tantangan muncul, atlet akan lebih cenderung untuk bertahan," saran Robnett.
Di Amerika Serikat, orang tua menghabiskan sekitar US$40 miliar per tahun untuk olahraga pemuda demi mengejar beasiswa atau karier profesional. Tekanan tinggi ini justru memicu kelelahan (burnout). Tyler Muñoz dari i9 Sports menekankan bahwa spesialisasi olahraga satu jenis secara penuh di usia 7-9 tahun adalah "bendera merah" yang bisa membuat anak berhenti lebih cepat.
Olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan kawah candradimuka bagi kepemimpinan. Menurut Robnett, banyak perempuan di posisi puncak perusahaan Fortune 500 mengaitkan kesuksesan mereka dengan pengalaman berolahraga di masa muda. Olahraga membangun kepercayaan diri dan ketegasan yang sulit didapatkan di aktivitas lain.
Kuncinya adalah menciptakan lingkungan yang suportif. Mayoritas orangtua (92%) setuju bahwa kepercayaan diri adalah prioritas utama. Untuk itu, dibutuhkan lebih banyak pelatih perempuan sebagai role model dan program rekreasi yang tetap menyenangkan bagi remaja, tanpa harus selalu menjadi atlet elit.
Sebab, pada akhirnya, anak-anak tetaplah anak-anak: mereka bermain karena ingin merasa bahagia dan menjadi bagian dari sebuah tim. (Parents/Z-2)
Peneliti Swedia mengungkap bahwa kebugaran mulai merosot di usia 35 tahun. Kabar baiknya, memulai olahraga di usia dewasa masih bisa meningkatkan kapasitas fisik hingga 10%.
Riset menunjukkan olahraga ekstrem dapat meningkatkan risiko penuaan dini dan gangguan jantung. Ketahui batas olahraga yang aman.
Olahraga bukan hanya untuk fisik, tapi juga kesehatan mental. Temukan bagaimana aktivitas fisik dapat meredakan stres, depresi, dan tingkatkan suasana hati.
Manfaat Exercise: Sehat, Bugar, Produktif!. Raih sehat, bugar, dan produktif dengan exercise! Temukan manfaat olahraga untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved