Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Literasi Masyarakat terhadap Produk Herbal masih Rendah

 Gana Buana
10/2/2026 18:31
Literasi Masyarakat terhadap Produk Herbal masih Rendah
Industri herbal lokal masih menghadapi masalah serius terkait rendahnya literasi konsumen.(Dok. Freepik)

MESKIPUN pasar produk herbal di Indonesia terus berkembang, industri herbal lokal masih menghadapi masalah serius terkait rendahnya literasi konsumen. Data Profil Statistik Kesehatan 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, meskipun minat terhadap produk kesehatan non-medis semakin meningkat, pemahaman konsumen terkait produk herbal, termasuk fungsi, klasifikasi, dan batasan penggunaannya, masih rendah.

Praktisi Industri Herbal, Fazli Hasniel Sugiharto, menjelaskan bahwa rendahnya literasi ini menyebabkan ketidakcocokan antara harapan konsumen dan karakteristik produk herbal. Banyak konsumen yang menganggap produk herbal sama dengan obat medis, padahal produk herbal seharusnya digunakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

“Masih banyak masyarakat yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, yang disalahkan bukan pemahamannya, melainkan produknya,” kata Arniel yang juga merupakan putra dari almarhumah Lilies Susanti Handayani, pencipta racikan Kutus Kutus.

Industri herbal lokal, kata dia, menghadapi tantangan berat dalam mengedukasi konsumen. Produk dengan klaim berlebihan seringkali lebih cepat menarik perhatian konsumen, sementara pelaku usaha yang fokus pada edukasi malah kesulitan berkomunikasi dengan pasar.

Arniel menambahkan, rendahnya literasi konsumen berpotensi merugikan dua pihak. Konsumen berisiko kecewa atau salah kaprah, sedangkan industri herbal yang berupaya menjaga standar kualitas harus bekerja lebih keras untuk membangun kepercayaan publik.

Pentingnya edukasi konsumen dalam industri ini tidak hanya dilihat dari sisi komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Tanpa edukasi yang tepat, pertumbuhan industri herbal berisiko rapuh.

Kepercayaan publik, yang menjadi aset utama dalam industri herbal, sangat bergantung pada informasi yang transparan dari produsen. Dalam hal ini, media dan regulator memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi konsumen. Penguatan pengawasan terhadap klaim produk dan transparansi informasi menjadi kunci untuk menjaga kualitas pasar herbal domestik dan mendorong persaingan yang sehat.

Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan media diperlukan untuk memastikan pasar herbal Indonesia tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya