Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
MI instan memang sulit dipisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia. Selain harganya yang terjangkau, rasa gurih dan kepraktisannya menjadikan makanan ini pilihan utama, terutama saat cuaca dingin atau musim hujan. Namun, pakar kesehatan mengingatkan agar masyarakat mulai mengubah pola konsumsi mi instan dari makanan pokok menjadi sekadar makanan "rekreasi".
Anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, menekankan pentingnya membatasi frekuensi konsumsi mi instan.
Menurutnya, mi instan adalah jenis makanan yang aman dikonsumsi asalkan masyarakat paham mengenai batasan porsi yang ketat. Ia menyarankan agar konsumsi mi instan dibatasi cukup satu kali dalam sebulan.
“Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja,” ujar Diah, dikutip Minggu (8/2).
Pembatasan ketat ini bukan tanpa alasan. Kandungan natrium (garam) dalam satu bungkus mi instan, khususnya varian kuah, sangatlah tinggi yakni mencapai lebih dari 1.000 miligram. Jumlah tersebut sudah memenuhi hampir 75% kebutuhan natrium harian seseorang.
Bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu seperti hipertensi, satu porsi mi instan saja sudah hampir menghabiskan seluruh kuota garam harian mereka.
“Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1000-1100 milligram per saji,” jelas Diah.
Diah memperingatkan bahwa mengonsumsi mi instan setiap minggu atau lebih sering dari itu dapat berdampak serius pada kesehatan jangka panjang.
Masalah kesehatan yang mengintai meliputi penyakit degeneratif seperti kerusakan pembuluh darah, gangguan fungsi ginjal, hingga obesitas.
Selain itu, dampak buruk juga terlihat pada kelompok usia muda. Pada remaja, riwayat mengonsumsi mi instan setiap minggu ditemukan dapat memicu masalah pencernaan seperti iritasi lambung, ambeien (hemoroid), hingga risiko kanker usus.
Oleh karena itu, menjaga disiplin untuk hanya mengonsumsi mi instan satu bulan sekali menjadi langkah preventif yang krusial agar tubuh terhindar dari tumpukan natrium dan lemak jenuh yang berlebihan. (Ant/Z-1)
Makanan yang mudah dicerna tidak hanya bermanfaat saat sakit, tetapi juga dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan sehari-hari.
Pemilihan nutrisi yang memiliki efek antiinflamasi dan antioksidatif menjadi kunci utama dalam menjaga keremajaan tubuh.
Kondisi tubuh yang kuat sangat diperlukan agar anak mampu menghadapi berbagai efek samping akibat kemoterapi.
Istilah "makan terakhir" biasanya merujuk pada hidangan pamungkas yang diinginkan seseorang sebelum menutup usia.
Kunci utama pemenuhan serat terletak pada keberagaman jenis pangan yang dikonsumsi.
Jaga kesehatan si kecil dengan pilihan makanan yang tepat. Simak daftar makanan ampuh untuk mengendalikan gula darah anak secara alami dan lezat.
Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan.
Selama bulan Ramadan, konsumsi mi instan di Indonesia meningkat 8,4%, menjadikannya pilihan favorit masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved