Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MI instan memang sulit dipisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia. Selain harganya yang terjangkau, rasa gurih dan kepraktisannya menjadikan makanan ini pilihan utama, terutama saat cuaca dingin atau musim hujan. Namun, pakar kesehatan mengingatkan agar masyarakat mulai mengubah pola konsumsi mi instan dari makanan pokok menjadi sekadar makanan "rekreasi".
Anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, menekankan pentingnya membatasi frekuensi konsumsi mi instan.
Menurutnya, mi instan adalah jenis makanan yang aman dikonsumsi asalkan masyarakat paham mengenai batasan porsi yang ketat. Ia menyarankan agar konsumsi mi instan dibatasi cukup satu kali dalam sebulan.
“Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja,” ujar Diah, dikutip Minggu (8/2).
Pembatasan ketat ini bukan tanpa alasan. Kandungan natrium (garam) dalam satu bungkus mi instan, khususnya varian kuah, sangatlah tinggi yakni mencapai lebih dari 1.000 miligram. Jumlah tersebut sudah memenuhi hampir 75% kebutuhan natrium harian seseorang.
Bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu seperti hipertensi, satu porsi mi instan saja sudah hampir menghabiskan seluruh kuota garam harian mereka.
“Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1000-1100 milligram per saji,” jelas Diah.
Diah memperingatkan bahwa mengonsumsi mi instan setiap minggu atau lebih sering dari itu dapat berdampak serius pada kesehatan jangka panjang.
Masalah kesehatan yang mengintai meliputi penyakit degeneratif seperti kerusakan pembuluh darah, gangguan fungsi ginjal, hingga obesitas.
Selain itu, dampak buruk juga terlihat pada kelompok usia muda. Pada remaja, riwayat mengonsumsi mi instan setiap minggu ditemukan dapat memicu masalah pencernaan seperti iritasi lambung, ambeien (hemoroid), hingga risiko kanker usus.
Oleh karena itu, menjaga disiplin untuk hanya mengonsumsi mi instan satu bulan sekali menjadi langkah preventif yang krusial agar tubuh terhindar dari tumpukan natrium dan lemak jenuh yang berlebihan. (Ant/Z-1)
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena ada laporan pada Sabtu (24/1) yang menduga makanan tersebut terbuat dari bahan Polyurethane Foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Modifikasi penggunaan bumbu untuk menurunkan kandungan natrium, dengan cara penggunaan bumbu dapur untuk mengurangi penggunaan bumbu bubuk mi instan.
Selama bulan Ramadan, konsumsi mi instan di Indonesia meningkat 8,4%, menjadikannya pilihan favorit masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved