Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Solusi Rangkap Kelas: Harapan Baru Pendidikan dari Pelosok Probolinggo

Basuki Eka Purnama
04/2/2026 10:28
Solusi Rangkap Kelas: Harapan Baru Pendidikan dari Pelosok Probolinggo
Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath bersama siswa SDN Sariwani 2, Probolinggo(MI/Dok Kedubes Australia)

KETERBATASAN fasilitas dan kekurangan tenaga pengajar di daerah terpencil kini bukan lagi penghalang bagi siswa untuk meraih prestasi. Melalui program kemitraan Australia–Indonesia, INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), Kabupaten Probolinggo berhasil membuktikan bahwa pendekatan pembelajaran multigrade atau rangkap-kelas mampu mendongkrak kualitas pendidikan secara signifikan.

Model pembelajaran rangkap-kelas ini pertama kali diujicobakan pada 2018. Strategi ini dirancang sebagai solusi praktis bagi sekolah-sekolah yang memiliki jumlah siswa sedikit atau keterbatasan ruang kelas. 

Dalam praktiknya, seorang guru memfasilitasi proses belajar-mengajar bagi siswa dari berbagai tingkatan kelas sekaligus dalam satu ruangan yang sama.

Hasilnya luar biasa. Data menunjukkan lompatan besar pada aspek fundamental pendidikan: skor literasi siswa meningkat dari 63,8 menjadi 73,2, sementara skor numerasi melonjak drastis dari 54 ke 72,2. 

Keberhasilan ini memicu perluasan implementasi ke 168 sekolah dasar di seluruh Kabupaten Probolinggo, termasuk SDN Sariwani 2.

Keberhasilan di lapangan ini menarik perhatian para pemangku kebijakan. Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, bersama Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, dan Deputi Bidang Pembangunan Manusia Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, meninjau langsung penerapan metode ini di SDN Sariwani 2.

"Indonesia dan Australia adalah mitra dekat, dan kami memiliki komitmen yang sama untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak. Saya senang dapat mengunjungi SDN Sariwani 2 untuk melihat bagaimana kerja sama kita memberikan hasil yang luar biasa bagi anak-anak sekolah di Indonesia," ungkap Gita Kamath.

Senada dengan hal tersebut, Sekjen Kemendikdasmen, Suharti, menegaskan bahwa pendekatan ini selaras dengan prioritas pemerintah dalam menciptakan pendidikan inklusif.

"Saya sangat menghargai kolaborasi ini yang telah menemukan cara-cara kreatif untuk memastikan anak-anak di daerah terpencil terus menerima pendidikan berkualitas baik. Ini adalah langkah konkret menuju terwujudnya pendidikan inklusif dan berkualitas bagi semua anak di seluruh Indonesia. Kemdikdasmen telah bekerja sama dengan program INOVASI untuk memperluas pendekatan ini ke wilayah lain di Indonesia melalui inisiatif pelatihan guru," jelasnya.

Dari sisi kebijakan nasional, Deputi Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menyoroti dampak jangka panjang metode ini dalam menekan angka putus sekolah di wilayah sulit geografis.

"Pendekatan ini adalah contoh yang baik, dengan bukti yang kuat, yang akan menjadi pendekatan strategis untuk mempercepat akses pendidikan sekaligus memastikan kualitas pengajaran dan pembelajaran. Selanjutnya, ini akan menjadi tantangan bagi kami, Bappenas dan Kemdikdasmen, untuk memperluas implementasinya ke wilayah lain di Indonesia," pungkas Pungkas.

Kini, keberhasilan di Probolinggo menjadi cetak biru bagi daerah lain di Indonesia untuk memastikan bahwa setiap anak, terlepas dari lokasinya, tetap mendapatkan hak pendidikan yang setara dan berkualitas. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya