Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BENCANA longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tidak dapat dipahami semata sebagai peristiwa alam. Dari perspektif geografi manusia, bencana ini merupakan akumulasi panjang dari tekanan penduduk, ketimpangan penguasaan lahan dan lemahnya penerapan tata ruang.
Ini disampaikan Guru Besar Geografi Pariwisata dengan bidang keahlian Geografi Manusia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M.S., Jumat (30/1), bahwa ancaman bencana secara alamiah memang selalu ada, terutama di wilayah pegunungan. Namun, ancaman tersebut berubah menjadi bencana ketika manusia hidup dan beraktivitas di ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungannya.
“Bencana sudah terjadi ribuan tahun lalu, yang menjadi persoalan hari ini adalah tekanan penduduk yang semakin besar dan keterbatasan akses masyarakat terhadap lahan yang layak untuk digarap,” ungkapnya.
Tekanan Penduduk dan Permukiman di Lahan Marginal
Enok menjelaskan pertumbuhan penduduk yang terus bertambah, tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan pertanian dan lapangan kerja mendorong masyarakat, khususnya petani kecil, untuk menggarap lahan marginal seperti lereng curam, yang rawan longsor.
Banyak masyarakat di Kecamatan Cisarua bukanlah pemilik lahan, melainkan penggarap. Keterbatasan ekonomi memaksa mereka tinggal dekat dengan lahan garapan demi menekan biaya hidup, meskipun secara geografis wilayah tersebut berisiko tinggi.
“Petani gurem dan petani tanpa lahan cenderung tidak punya pilihan. Mereka terdorong untuk bertahan hidup di ruang-ruang yang sebenarnya tidak aman. Dalam kajian Geografi Manusia, kondisi ini menunjukkan bahwa kerentanan bencana bersifat sosial, bukan hanya fisik," jelasnya.
Enok menyoroti bagaimana nilai dan persepsi masyarakat terhadap lahan memengaruhi perilaku pemanfaatan ruang. Bagi petani, lahan adalah sumber utama kehidupan, sehingga segala upaya dilakukan agar dapat menggap lahan agar produktif, meskipun berisiko terhadap lingkungan.Praktik pertanian hortikultura di lereng curam, termasuk penggunaan plastik penutup tanah, dinilai memperparah kondisi lingkungan karena menghambat infiltrasi air dan meningkatkan potensi longsor. Perilaku ini bukan semata ketidaktahuan, melainkan bentuk keterpaksaan ekonomi.
"Adanya pergeseran gaya hidup dan meningkatnya tekanan kepentingan ekonomi, baik dari masyarakat lokal maupun pihak luar, yang menyebabkan Kawasan Bandung Utara (KBU), termasuk Cisarua, menjadi sasaran permukiman dan aktivitas ekonomi akibat urban dari wilayah perkotaan," tandasnya.
Enok menilai lemahnya pengawasan dan konsistensi penerapan kebijakan tata ruang membuat kawasan lindung dan daerah resapan air terus terdegradasi. Persoalannya bukan pada aturan, tetapi pada komitmen dan pengawasannya.
Dalam konteks korban bencana, Enok memaparkan bahwa kelompok masyarakat miskin menjadi pihak paling rentan karena keterbatasan pilihan hidup. Ketidakberdayaan ekonomi, minimnya lapangan kerja dan rendahnya literasi kebencanaan membentuk apa yang disebut sebagai lingkaran setan kemiskinan. Namun kemiskinan bukan penyebab tunggal, tetapi sistem sosial dan ekonomi yang tidak berpihak membuat masyarakat terus berada dalam kondisi rentan.
"Solusi jangka panjang tidak cukup dengan respons darurat, melainkan harus dimulai dari evaluasi tata ruang, monitoring, sosialisasi risiko bencana, serta pelibatan aktif masyarakat dalam perencanaan wilayah," ucapnya.
Enok menekankan pentingnya pembentukan komunitas siaga bencana, penyediaan peta rawan bencana yang komunikatif, rambu evakuasi serta pendidikan kebencanaan sejak usia sekolah. Mitigasi non-struktural melalui edukasi jauh lebih penting agar masyarakat memiliki kepekaan terhadap risiko bencana.
Belajar dari Kearifan Lokal
Prof. Enok juga menilai bahwa kearifan lokal masyarakat tradisional Sunda mengandung nilai mitigasi bencana yang kuat, seperti pengaturan zonasi ruang, jenis tanaman yang sesuai kontur lahan, serta pola hidup yang selaras dengan alam. Nilai-nilai tersebut, perlu dihidupkan kembali dan disesuaikan dengan konteks masyarakat modern.
"Sebagai rekomendasi, saya mendorong pengembangan mata pencaharian yang tidak merusak lingkungan seperti penanaman tanaman berakar kuat dan bernilai ekonomi tinggi, misalnya kopi, alpukat, bambu dan tanaman buah lain, sebagai alternatif hortikultura di lereng curam. Dan keberlanjutan ekonomi dan keselamatan lingkungan harus berjalan beriringan,” sambungnya. (H-2)
BADAN Eksekutif Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (BEM UPI) menyelenggarakan Seminar Hasil Program Mahasiswa Berdampak (PM-BEM).
Penutupan program ini sekaligus menandai peresmian rumah produksi DARMASOY sebagai wujud keberlanjutan pemberdayaan masyarakat.
UPI juga meraih Laporkerma yang mencerminkan tata kelola kerja sama institusional yang tertib, akuntabel, dan berorientasi pada penguatan jejaring nasional maupun internasional.
Kita harus memastikan rumah yang dibangun aman dan berkelanjutan.
Program ini mengembangkan sistem konversi sampah organik menjadi pakan ayam berkualitas tinggi
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved