Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Fenomena Takut Salah Bicara: Hambatan Terbesar Belajar Bahasa Orang Indonesia

Media Indonesia
26/1/2026 20:47
Fenomena Takut Salah Bicara: Hambatan Terbesar Belajar Bahasa Orang Indonesia
Ilustrasi.(Dok.Cakap)

TINGKAT kecemasan dalam berbicara bahasa Inggris di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia menunjukkan angka yang signifikan, menegaskan bahwa hambatan terbesar dalam belajar bahasa bukanlah soal kosakata atau grammar, melainkan takut salah bicara. Dalam sebuah penelitian akademik terhadap mahasiswa di Indonesia, 53,33% responden mengalami kecemasan tinggi saat harus berbicara dalam bahasa Inggris, dan 20% lainnya melaporkan kecemasan yang cukup tinggi dalam situasi komunikasi lisan, menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mengalami tekanan psikologis saat diminta berbicara dalam bahasa asing ini.

Mengapa Takut Salah Bicara Menjadi Hambatan Utama?

  • Budaya takut dinilai oleh lingkungan

Rasa takut dibuat salah atau diejek oleh teman sekelas maupun pendengar sering menjadi pemicu utama kecemasan. Kekhawatiran ini, dikenal sebagai fear of negative evaluation, membuat banyak siswa memilih diam daripada mencoba berbicara.

  • Fokus pada kesempurnaan, bukan praktik

Lingkungan pembelajaran tradisional seringkali menekankan kesalahan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Akibatnya, siswa menjadi terlalu fokus pada grammar atau pengucapan “sempurna”, sehingga enggan berbicara untuk berlatih.

  • Kurangnya kesempatan praktik nyata

Di luar kelas, banyak pelajar tidak menemukan ruang atau komunitas untuk berbicara bahasa Inggris secara konsisten. Kurangnya paparan langsung membuat mereka tidak terbiasa berbicara secara spontan dalam konteks nyata.

Fluency di Era Baru: AI vs Human Interaction

Untuk mengatasi hambatan takut berbicara, dunia pendidikan bahasa kini mulai menggabungkan dua pendekatan utama dalam praktik fluency: interaksi manusia (human interaction) dan latihan berbasis Artificial Intelligence (AI).

AI untuk Fluency: Ruang Aman dan Fleksibel

Latihan dengan AI memberikan ruang bebas tekanan bagi pembelajar untuk berlatih berbicara tanpa rasa takut dinilai salah. Teknologi ini memungkinkan peserta didik untuk berulang-ulang mencoba menyusun kalimat, mempraktikkan dialog, dan memperbaiki pengucapan secara mandiri. AI ideal sebagai confidence builder, tempat pembelajar memulai perjalanan mereka tanpa risiko cemoohan atau penghakiman sosial.

Namun, AI memiliki keterbatasan dalam hal konteks sosial dan nuansa komunikasi nyata. AI belum sepenuhnya mampu meniru dinamika percakapan manusia, seperti membaca ekspresi wajah, menanggapi emosional, atau memberikan umpan balik yang nuansial sesuai konteks budaya.

Human Interaction: Real Context & Social Skills

Di sisi lain, praktik dengan pengajar atau lawan bicara manusia memberikan pengalaman komunikasi nyata yang penting. Interaksi manusia melatih respons spontan, adaptasi terhadap konteks percakapan, serta keterampilan sosial yang tidak bisa direplikasi AI. Ini sangat penting untuk situasi seperti presentasi di depan publik, negosiasi profesional, atau percakapan lintas budaya.

Namun, bagi sebagian pembelajar, interaksi langsung ini juga dapat memicu kecemasan, terutama jika suasana belajar tidak mendukung atau terlalu kompetitif.

Solusi Optimal: Kombinasi Pendekatan

AI dan interaksi manusia sebenarnya bukan pesaing, tetapi justru dua alat pelatihan yang saling melengkapi, AI membantu pembelajar membangun keberanian berbicara tanpa tekanan sosial. Human interaction memperkaya kemampuan komunikasi nyata dengan konteks sosial, emosional, dan budaya.

Kombinasi ini memungkinkan pembelajar maju dari fase confidence building menuju actual fluency yang aplikatif dalam kehidupan profesional dan sosial.

Membentuk Fluency Tanpa Takut Bersama Cakap

Cakap memahami bahwa hambatan utama dalam belajar bahasa Inggris bukan sekadar penguasaan kosakata atau grammar, melainkan keberanian untuk mulai berbicara. Oleh karena itu, Cakap menghadirkan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya mengandalkan kelas bersama pengajar profesional, tetapi juga didukung oleh latihan berbasis AI sebagai pendamping latihan berbicara.

Melalui kombinasi ini, peserta didik dapat berlatih secara fleksibel dan aman di luar kelas menggunakan AI, sebagai ruang bebas tekanan untuk mencoba, mengulang, dan membangun kepercayaan diri, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi nyata melalui interaksi langsung dengan pengajar manusia yang suportif dan berpengalaman.

Pendekatan pembelajaran Cakap dirancang untuk menurunkan kecemasan berbicara secara bertahap, membangun confidence, dan mendorong fluency yang aplikatif dalam konteks akademik, profesional, maupun sehari-hari. Karena pada akhirnya, fluency bukan hanya tentang tahu bahasa Inggris, tetapi tentang berani menggunakannya di dunia nyata, dengan dukungan teknologi dan manusia yang saling melengkapi. (RO/H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya