Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Bagaimana Trauma Tersimpan di Tubuh dan Cara Tubuh Pulih

Abi Rama
26/1/2026 11:23
Bagaimana Trauma Tersimpan di Tubuh dan Cara Tubuh Pulih
Ilustrasi(freepik)

TRAUMA kerap dipahami sebagai pengalaman psikologis yang membekas dalam ingatan. Namun, para ahli terapi trauma menegaskan trauma tidak hanya hidup di pikiran, melainkan juga tersimpan di dalam tubuh. Pandangan inilah yang menjadi dasar pendekatan terapi berbasis somatik, sebagaimana dijelaskan Attune Philadelphia Therapy Group.

Trauma dapat muncul akibat satu peristiwa besar maupun pengalaman menyakitkan yang terjadi berulang dalam jangka panjang. Jika tidak diproses dengan aman, trauma akan membentuk pola respons tubuh yang menetap dan memengaruhi emosi, relasi sosial, hingga kesehatan fisik seseorang.

Trauma dan Peran Keterikatan Sejak Dini

Dalam perkembangan awal manusia, hubungan orang tua dan anak memegang peran penting dalam membentuk rasa aman. Proses yang disebut attunement membantu menenangkan sistem saraf bayi yang masih belum matang.

Namun, attunement tidak berlangsung terus-menerus. Gangguan kecil adalah hal yang wajar, dan yang terpenting adalah adanya proses perbaikan (repair). Ketika siklus ini terjadi secara konsisten, otak anak akan berkembang dengan sistem saraf yang lebih siap untuk mengelola stres dan membangun relasi sosial di kemudian hari.

Sebaliknya, ketika keterikatan dipenuhi oleh ketidakamanan, kekerasan emosional, atau pengabaian, tubuh belajar untuk terus berada dalam kondisi waspada. Pola inilah yang kelak menjadi fondasi trauma relasional.

Trauma Relasional Kompleks

Trauma relasional kompleks terjadi akibat rangkaian pengalaman traumatis yang berulang, terutama dalam hubungan dekat seperti keluarga atau pasangan. Trauma ini sering kali terdiri dari banyak pengalaman “kecil” yang terus menumpuk, seperti gaslighting, penghinaan, atau penolakan emosional, yang dikenal sebagai Little T trauma.

Meski tampak ringan secara terpisah, akumulasi trauma kecil ini justru menjadi sumber kerusakan psikologis yang mendalam, terutama pada anak-anak yang belum memiliki pemahaman atau identitas diri yang kuat. Dalam beberapa kasus, trauma relasional juga dapat disertai Big T trauma seperti kekerasan fisik dan kekerasan seksual.

Trauma yang Tersimpan di Tubuh

Salah satu ciri utama trauma adalah disregulasi somatik, yaitu kondisi ketika trauma tersimpan dalam respons tubuh. Trauma ini bisa tidak disadari dalam keseharian, tetapi akan muncul kembali saat ada pemicu yang mengingatkan pada pengalaman traumatis.

Respons tubuh terhadap pemicu PTSD sering bersifat ekstrem, seperti jantung berdebar, napas pendek, otot menegang, mual, atau rasa panik yang datang tiba-tiba. Tubuh seolah mengira ancaman masa lalu sedang terjadi kembali, sehingga masa lalu dan masa kini terasa bercampur.

Selain respons “fight or flight”, trauma juga dapat memunculkan respons freeze. Di mana seseorang merasa mati rasa, terhenti, atau tidak mampu bergerak dan bertindak.

Disosiasi

Ciri lain dari trauma relasional kompleks adalah disosiasi, yakni gangguan pada keutuhan pengalaman diri. Disosiasi dapat berupa kehilangan rasa waktu, tidak mengingat apa yang dilakukan, atau perasaan “tidak seperti diri sendiri”.

Dalam kondisi ini, pengalaman traumatis terpisah dari fungsi kehidupan sehari-hari. Ketika pemicu muncul, seseorang dapat mengalami perubahan mendadak dari mati rasa menjadi kewalahan secara emosional dan fisik. Pergeseran ekstrem ini sering kali sama melelahkannya dengan trauma itu sendiri.

Tanda-Tanda Tubuh Mulai Melepaskan Trauma

Pelepasan trauma umumnya tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui proses terapi dan pendekatan berbasis tubuh. Seiring pemulihan, tubuh mulai menunjukkan perubahan yang menandakan sistem saraf kembali ke kondisi aman.

Beberapa tanda yang sering muncul antara lain otot perut yang lebih rileks, napas yang lebih dalam dan lambat, bahu dan rahang yang tidak lagi tegang, serta postur tubuh yang lebih tegak dan nyaman. Detak jantung menjadi lebih stabil, tekanan darah menurun, dan tangan serta kaki terasa lebih hangat.

Selain itu, seseorang mulai lebih terhubung dengan sensasi tubuhnya. Kesadaran meningkat, respons emosional lebih tertata, dan keberadaan diri terasa lebih tenang serta utuh. (Attune Philadelphia Therapy Group/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya