Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Bahaya Doomscrolling! Ilmuwan Ungkap "Deep Reading" Sebagai Obat Kecanduan Gadget

Thalatie K Yani
21/1/2026 12:00
Bahaya Doomscrolling! Ilmuwan Ungkap
Ilustrasi(freepik)

DI era digital saat ini, rata-rata orang Amerika memeriksa ponsel mereka lebih dari 140 kali sehari, dengan durasi penggunaan mencapai 4,5 jam. Faktanya, 57% orang mengaku telah "kecanduan" pada perangkat mereka. Di balik angka ini, perusahaan teknologi dan kreator konten terus bersaing memperebutkan atensi, sebuah ekosistem yang secara tidak langsung menyuburkan penyebaran misinformasi.

Kondisi ini diperparah dengan penurunan tingkat literasi. Banyak mahasiswa kini kesulitan menyelesaikan satu buku utuh, dan skor pemahaman membaca terus merosot. Platform media sosial, dengan fitur scrolling tanpa henti, dirancang untuk mendorong keterlibatan pasif sebagai pelarian dari kebosanan atau stres.

Deep Reading vs Doomscrolling

Ilmuwan kognitif dan pakar literasi mengungkapkan cara kita memproses informasi melalui layar ponsel sebenarnya sedang melatih otak untuk berpikir pasif. Algoritma media sosial terus menyuapi pengguna dengan konten serupa, memperkuat keyakinan yang sudah ada. Fenomena ini dikenal sebagai illusory truth, di mana informasi yang diulang-ulang terasa lebih benar meskipun salah.

Sebaliknya, Deep Reading (Membaca Mendalam) adalah proses sengaja untuk berinteraksi dengan informasi secara kritis, analitis, dan empatis. Ini bukan sekadar membaca cepat atau memindai (skimming), melainkan upaya untuk mempertanyakan interpretasi dan menghubungkan perspektif yang berbeda.

Meski membutuhkan usaha mental yang besar dan terkadang menimbulkan rasa tidak nyaman seperti kebingungan, deep reading menawarkan manfaat luar biasa.

"Membaca mendalam bisa menjadi cara yang efektif untuk melawan misinformasi serta mengurangi stres dan rasa kesepian," ungkap para peneliti.

Mengubah Kebiasaan Digital Menjadi Koneksi Sosial

Berbeda dengan doomscrolling yang dikaitkan dengan kecemasan eksistensial, upaya mental dalam membaca justru dapat memperdalam rasa keberadaan dan memperkuat hubungan sosial. Salah satu tren positif yang muncul adalah BookTok di TikTok, di mana komunitas daring berdiskusi dan menganalisis buku secara mendalam. Hal ini membuktikan bahwa analisis kritis masih memiliki tempat di tengah arus informasi yang serba cepat.

Langkah Memulai Deep Reading

Untuk mengasah kembali kemampuan otak Anda, para pakar menyarankan beberapa strategi sederhana:

  • Sadarilah Keterbatasan Anda: Pahami bahwa sumber daya kognitif kita terbatas. Bersikaplah sengaja dalam memilih ke mana Anda mengarahkan perhatian.
  • Berhenti Sejenak: Mengambil jeda beberapa detik untuk menilai informasi secara sadar dapat mengurangi kerentanan terhadap hoaks.
  • Mulai dari yang Kecil: Mulailah dengan puisi, cerita pendek, atau esai sebelum beralih ke buku yang lebih panjang.
  • Cari Teman Baca: Membaca satu bab sehari dan mendiskusikannya dengan teman atau anggota keluarga dapat membuat proses ini terasa lebih bermakna dan menyenangkan.

Membaca mendalam berarti masuk ke dalam dialog dengan teks, bukan sekadar memungut informasi. Dengan melatih diri untuk sesekali melambat, kita tidak hanya menyelamatkan literasi kita, tetapi juga menjaga kesehatan mental dari gempuran dunia digital yang tak pernah tidur. (The Conversation/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya