Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
CACAR api atau herpes zoster merupakan penyakit yang kerap menyerang orang dewasa, terutama lansia dan individu dengan daya tahan tubuh lemah. Penyakit ini dapat menimbulkan nyeri hebat hingga komplikasi jangka panjang. Karena itu, pencegahan paling efektif melalui vaksinasi.
Vaksin varicella dapat diberikan sejak usia anak-anak untuk mencegah infeksi awal cacar air yang menjadi pemicu cacar api di kemudian hari.
Pemberian vaksin varicella dilakukan sebanyak dua dosis. Pada anak usia 1–12 tahun, jarak antar dosis berkisar 6 minggu hingga 3 bulan. Sementara pada usia di atas 13 tahun dan dewasa, jarak antar dosis dianjurkan 4–6 minggu. Vaksin ini terbukti menurunkan risiko terkena cacar api, serta membuat gejala lebih ringan bila infeksi tetap terjadi.
Selain vaksin varicella, CDC juga merekomendasikan vaksin zoster rekombinan atau Shingrix untuk orang dewasa usia 50 tahun ke atas, serta individu berusia 19 tahun ke atas dengan sistem imun lemah. Vaksin ini dinilai aman dan efektif, bahkan pada kelompok dengan daya tahan tubuh yang menurun.
Tak hanya vaksinasi, pencegahan cacar api juga perlu dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat. Mengelola stres, menjaga imunitas tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, tidur cukup, serta menghindari rokok menjadi langkah penting untuk mencegah aktifnya kembali virus varicella-zoster di dalam tubuh.
Apabila cacar api sudah muncul, penanganan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi. Pengobatan cacar api bertujuan meredakan nyeri, mempercepat penyembuhan ruam, serta menekan risiko nyeri berkepanjangan atau neuralgia pascaherpes.
Obat antivirus seperti asiklovir, valasiklovir, dan famsiklovir menjadi terapi utama. Obat ini paling efektif bila diberikan dalam 72 jam pertama sejak ruam muncul. Selain antivirus, dokter juga dapat meresepkan obat pereda nyeri, mulai dari parasetamol hingga obat dengan dosis lebih kuat sesuai tingkat keparahan nyeri.
Dalam beberapa kondisi, kortikosteroid dapat digunakan untuk mengurangi peradangan. Namun, penggunaannya harus berdasarkan anjuran dokter. Sementara itu, krim atau losion topikal seperti kalamin dan lidokain dapat membantu meredakan gatal serta rasa perih pada kulit.
Perawatan mandiri di rumah juga berperan penting, seperti menjaga kebersihan kulit, mengompres dingin area ruam, menghindari menggaruk lepuhan, serta memperbanyak istirahat untuk mendukung pemulihan tubuh.
Perbedaan Cacar Api dan Cacar Air
Meski disebabkan oleh virus yang sama, cacar api dan cacar air memiliki perbedaan yang cukup jelas. Berikut beberapa perbedaannya.
Cacar air terjadi akibat infeksi awal virus varicella-zoster. Sementara itu, cacar api muncul karena aktifnya kembali virus yang sama setelah sebelumnya “tidur” di dalam sistem saraf.
Cacar air umumnya menyerang anak-anak. Sebaliknya, cacar api lebih sering dialami oleh orang dewasa, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun.
Pada cacar air, ruam menyebar ke seluruh tubuh. Sedangkan pada cacar api, ruam biasanya hanya muncul di satu sisi tubuh dan mengikuti jalur saraf tertentu.
Cacar air ditandai dengan demam, ruam, dan rasa gatal. Cacar api lebih dominan menyebabkan nyeri hebat, disertai ruam dan lepuhan yang terasa perih.
Cacar air sangat mudah menular melalui udara maupun kontak langsung. Cacar api tidak menular lewat udara, tetapi cairan dari lepuhan dapat menularkan virus kepada orang yang belum pernah terkena cacar air. (H-4)
Cacar api bisa muncul saat imun menurun, terutama usia 50+. Ketahui waktu tepat vaksin herpes zoster (Shingrix), dosis, manfaat, dan siapa yang perlu konsultasi.
PENYAKIT cacar api atau herpes zoster tidak dapat dipandang sebelah mata. Penanganan yang terlambat atau tidak tepat berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
Dokter spesialis anak subspesialis infeksi dan penyakit tropik menjelaskan virus varicella zoster dapat menetap secara laten di sistem saraf dan dapat aktif kembali menjadi herpes zoster.
Penelitian: infeksi virus kronis, seperti herpes zoster, HIV, dan hepatitis C dapat meningkatkan risiko jantung dan stroke.
Herpes zoster biasanya diidentifikasi dengan munculnya rasa nyeri di kulit yang diikuti kemunculan ruam dan lepuhan berisi cairan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved