Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT cacar api atau herpes zoster tidak dapat dipandang sebelah mata. Penanganan yang terlambat atau tidak tepat berpotensi menimbulkan komplikasi cacar api serius, terutama nyeri kronis yang dalam sejumlah kasus dilaporkan lebih hebat dibandingkan nyeri pascaoperasi maupun nyeri persalinan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam subspesialis Reumatologi Siloam Hospital Lippo Village, dr Sandra Sinthya Langow menjelaskan bahwa cacar api disebabkan oleh Virus Varicella Zoster (VZV), virus yang sama dengan penyebab cacar air.
"Virusnya sama seperti cacar air yang kita alami saat kecil. Namun, setelah sembuh, virus ini tidak hilang, melainkan menetap di dalam tubuh dan akan aktif kembali ketika sistem imun menurun," kata Sandra, dikutip Senin (19/1).
Sandra memaparkan, gejala awal cacar api tidak langsung berupa nyeri berat. Pada fase awal, penderita biasanya merasakan nyeri atau gatal di satu area tubuh tertentu. Berbeda dengan cacar air yang menyebar ke seluruh tubuh, herpes zoster umumnya hanya muncul di satu sisi atau area spesifik.
Pada hari ke-0 hingga ke-3, keluhan yang muncul meliputi nyeri ringan, gatal, sakit kepala, serta gejala umum lainnya. Memasuki hari ke-4 hingga ke-8, ruam dan lepuhan berisi cairan mulai terlihat, disertai nyeri yang semakin intens. Fase penyembuhan biasanya terjadi pada minggu ke-2 hingga ke-4, ditandai dengan lepuhan yang mengering dan mengelupas.
Namun, pada sebagian pasien, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi kronis. Nyeri dapat bertahan dalam jangka panjang, bahkan hingga bertahun-tahun.
"Kalau cacar air sembuh biasanya kulit kembali mulus. Berbeda dengan cacar api, bisa muncul komplikasi yang disebut Neuralgia Pasca-Herpes (PHN). Ini adalah nyeri hebat yang tidak berlangsung sebentar, bahkan bisa bertahun-tahun," jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah pasien menggambarkan nyeri akibat PHN lebih parah dibandingkan nyeri pascaoperasi, persalinan, maupun sakit kepala akut.
"Nyeri melahirkan mungkin berlangsung 8 jam sampai dua hari, tapi ini bisa berbulan-bulan bahkan menahun," ujarnya.
Menurut Sandra, cacar api rentan muncul ketika daya tahan tubuh melemah. Anak-anak serta kelompok usia di atas 50 tahun menjadi kelompok yang paling berisiko karena sistem imun yang cenderung menurun.
Oleh karena itu, menjaga kekebalan tubuh menjadi langkah utama pencegahan. Namun, penguatan imun tidak dapat dilakukan secara instan.
"Tidak cukup hanya minum vitamin atau suntik vitamin sesekali. Imun harus dipelihara secara konsisten. Ada konsep TOMS yang bisa diterapkan setiap hari," ucapnya.
TOMS mencakup Tidur cukup minimal delapan jam per hari, Olahraga rutin untuk menjaga metabolisme dan mencegah penyakit seperti diabetes, Makan sehat dan bergizi seimbang, serta mengelola Stres dengan baik. Selain menjaga imunitas, pencegahan cacar api juga dapat dilakukan melalui vaksinasi.
Sementara itu, Head of Medical Vaccine GSK Indonesia, dr Johan Wijoyo menyampaikan bahwa GSK Indonesia terus mendukung upaya pencegahan penyakit menular melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, asosiasi kedokteran, dan tenaga kesehatan.
"Kami aktif meningkatkan kesadaran publik melalui edukasi tentang pentingnya pencegahan cacar api atau herpes zoster, termasuk vaksinasi sebagai langkah preventif yang efektif," ujar Johan.
Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, GSK Indonesia juga menghadirkan chatbot WhatsApp KECAPI (Kenali Cacar Api) yang memudahkan masyarakat memperoleh informasi mengenai herpes zoster dan langkah-langkah pencegahannya. (H-3)
Dokter spesialis anak subspesialis infeksi dan penyakit tropik menjelaskan virus varicella zoster dapat menetap secara laten di sistem saraf dan dapat aktif kembali menjadi herpes zoster.
Penelitian: infeksi virus kronis, seperti herpes zoster, HIV, dan hepatitis C dapat meningkatkan risiko jantung dan stroke.
Herpes zoster biasanya diidentifikasi dengan munculnya rasa nyeri di kulit yang diikuti kemunculan ruam dan lepuhan berisi cairan.
Studi di jurnal JAMA menunjukkan vaksin herpes zoster dapat menurunkan risiko demensia pada lansia.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan vaksin herpes zoster dapat menurunkan risiko demensia hingga 20% dalam tujuh tahun setelah vaksinasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved