Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI orangtua yang memiliki anak di bangku SMA, kekhawatiran biasanya berkisar pada apakah mereka akan makan sayur atau menjaga kebersihan kamar saat mulai kuliah nanti. Namun, ada satu kekhawatiran yang jarang disadari namun sangat krusial, banyak remaja dan dewasa muda berhenti memeriksakan kesehatan mereka begitu mereka tidak lagi dijadwalkan orangtua.
Data terbaru dari Johns Hopkins Children's Center menunjukkan remaja dan dewasa muda usia 15-23 tahun berada pada risiko besar untuk menghentikan perawatan medis. Penelitian menemukan lebih dari 30% pria dan hampir 20% perempuan mulai "lepas tangan" terhadap kesehatan mereka seiring bertambahnya usia.
Dr. Arik Marcell, salah satu penulis studi dan spesialis kedokteran remaja di Johns Hopkins Children's Center, menjelaskan pria muda khususnya memiliki lebih sedikit pengalaman dalam mengelola sistem kesehatan secara mandiri.
Ada beberapa alasan utama mengapa kelompok usia ini berhenti melakukan pemeriksaan rutin:
"Mereka umumnya sehat tanpa keluhan medis dan mungkin tidak menyadari bahwa perawatan preventif rutin penting untuk menjaga kesehatan yang berkelanjutan," tambah Dr. Shannon Fox-Levine, Direktur Medis South Florida Bluebird Kids Health.
Selain itu, jeda pemberian vaksin yang biasanya menumpuk di masa kecil membuat banyak remaja merasa tidak punya alasan kuat untuk datang ke klinik, kecuali jika mereka benar-benar jatuh sakit.
Dampak dari melewatkan pemeriksaan kesehatan pasca-SMA bisa berakibat serius. Dokter tidak hanya ada untuk mengobati penyakit, tetapi juga memberikan bimbingan antisipatif terkait kesehatan mental, kesehatan seksual, hingga penyalahgunaan zat.
"Pemeriksaan tahunan yang terlewat juga membuat pasien dan orang tua lebih sulit untuk terus membangun kepercayaan dan hubungan yang lebih dalam dengan dokter," ungkap Dr. Mark Murray dari Nemours Children’s Health.
Studi ini juga mencatat sekitar 13% perempuan akhirnya kembali mencari layanan kesehatan saat mengalami masalah terkait menstruasi atau kehamilan. Sebaliknya, pria muda sering kali tidak memiliki alasan spesifik untuk kembali, sehingga risiko gangguan kesehatan yang tidak terdeteksi menjadi lebih tinggi.
Transisi dari dokter anak ke dokter umum adalah pilihan personal yang biasanya terjadi antara usia 16-21 tahun. Alasan utamanya sering kali sederhana. Mereka mulai merasa tidak nyaman berada di ruang tunggu yang penuh dengan bayi.
Meski demikian, banyak dokter anak yang tetap bersedia menangani pasien hingga usia 21 tahun. Dr. Murray menegaskan pesan penting bagi para dewasa muda:
"Hal yang terpenting adalah Anda tetap melakukan pemeriksaan fisik tahunan dan tidak mengabaikan masalah kecil hingga menjadi masalah besar."
Pada akhirnya, poin utamanya bukan pada siapa dokternya, melainkan pada keberlanjutan perawatan kesehatan tahunan demi masa depan yang lebih sehat. (Parents/z-2)
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Kesehatan Anak (PIT Ke-13 IKA) pada 12-14 Oktober 2025 di Malang, Jawa Timur.
Dr. David Hill mengungkap 5 perubahan utama dalam perawatan bayi. Panduan penting untuk orangtua baru.
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) sedang mempertimbangkan mengambil langkah hukum karena banyaknya dokter spesialis anak yang dimutasi oleh Kemenkes.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved