Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Penjelasan Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat dalam Alquran Lengkap dengan Contoh

Wisnu Arto Subari
20/1/2026 17:59
Penjelasan Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat dalam Alquran Lengkap dengan Contoh
Ilustrasi.(Freepik)

DALAM studi Ulumul Quran, pemahaman mengenai Ayat Muhkamat dan Ayat Mutasyabihat adalah pintu masuk utama untuk memahami tafsir.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran: 7 bahwa Dialah yang menurunkan Al-Kitab yang di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat sebagai Ummul Kitab (pokok-pokok isi Alquran) dan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat.

1. Apa Itu Ayat Muhkamat?

Secara bahasa, Muhkamat berasal dari kata ihkam yang berarti kokoh atau jelas. Ayat Muhkamat adalah ayat-ayat yang maknanya sangat jelas, tegas, dan tidak menimbulkan keraguan atau penafsiran ganda bagi siapa pun yang membacanya.

Karakteristik Ayat Muhkamat:

  • Maknanya dapat langsung dipahami tanpa memerlukan penjelasan tambahan yang rumit.
  • Berfungsi sebagai landasan utama hukum (Syariat) dan akidah.
  • Hanya memiliki satu kemungkinan makna secara zahir (eksplisit).
Contoh Ayat Muhkamat:
"Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa." (QS. Al-Ikhlas: 1).
Ayat ini sangat tegas menyatakan keesaan Allah tanpa ada ruang untuk makna lain. Begitu pula dengan ayat-ayat mengenai kewajiban salat, zakat, dan larangan berzina.

2. Apa Itu Ayat Mutasyabihat?

Sebaliknya, Mutasyabihat secara bahasa berarti samar atau serupa. Ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang maknanya mengandung beberapa kemungkinan penafsiran atau yang hakikat sebenarnya hanya diketahui oleh Allah SWT.

Baca juga : Surat Al-Ikhlas dan Terjemahannya, Penyebab Turun, Tafsir Sifat Allah

Karakteristik Ayat Mutasyabihat:

  • Mengandung makna metaforis (majasi).
  • Sering kali berkaitan dengan sifat-sifat Allah yang menyerupai makhluk secara bahasa (antropomorfisme), tetapi berbeda secara maknanya dan hakikatnya.
  • Memerlukan pendalaman ilmu tafsir dan bahasa Arab untuk memahaminya.
Contoh Ayat Mutasyabihat:
"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaha: 5).
Kata "bersemayam" (istawa) secara bahasa manusia berarti duduk, namun bagi Allah, hakikat bersemayam-Nya tidak sama dengan makhluk dan tidak bisa dibayangkan.

3. Mengapa Allah Menurunkan Ayat Mutasyabihat?

Keberadaan ayat mutasyabihat merupakan ujian keimanan bagi manusia. Allah ingin membedakan antara orang-orang yang hatinya cenderung pada kesesatan (yang mencari-cari fitnah melalui ayat mutasyabihat) dengan orang-orang yang mendalam ilmunya (yang mengembalikan makna mutasyabihat kepada ayat muhkamat).

Baca juga: Ayat Kursi dengan Terjemahan dan Tafsir Sekilas

4. Sikap Ulama dalam Menghadapi Ayat Mutasyabihat

Dalam sejarah pemikiran Islam, terdapat dua metode utama yang digunakan para ulama untuk menyikapi ayat-ayat mutasyabihat, terutama yang berkaitan dengan sifat Allah:

  • Metode Salaf (Tafwidh): Menetapkan lafaz ayat tersebut sebagaimana adanya, tetapi menyerahkan (tafwidh) hakikat maknanya sepenuhnya kepada Allah SWT tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk.
  • Metode Khalaf (Takwil): Menafsirkan ayat tersebut dengan makna yang layak bagi keagungan Allah. Misalnya, kata yad (tangan) Allah ditakwilkan sebagai kekuasaan Allah agar orang awam tidak membayangkan Allah memiliki anggota tubuh.

People Also Ask (FAQ)

Q: Apakah orang awam boleh menafsirkan ayat mutasyabihat sendiri?
A: Sangat tidak disarankan. Menafsirkan ayat mutasyabihat tanpa landasan ilmu bahasa Arab dan kaidah tafsir yang kuat dapat menyebabkan kesesatan berpikir.

Q: Apa maksud dari Ummul Kitab dalam pembagian ayat ini?
A: Ummul Kitab merujuk pada ayat muhkamat yang menjadi rujukan utama. Jika ada ayat mutasyabihat yang terasa membingungkan, maknanya harus ditarik dan disesuaikan dengan prinsip dasar yang ada pada ayat muhkamat.

Q: Apakah ayat mutasyabihat hanya soal sifat Allah?
A: Tidak. Termasuk di dalamnya adalah huruf-huruf muqatta'ah di awal surat (seperti Alif Lam Mim) dan hal-hal gaib seperti hakikat hari kiamat.

Adab Mempelajari Tafsir Alquran

  • Memulai dengan niat ikhlas karena Allah SWT.
  • Mempelajari ayat muhkamat (hukum dan akidah dasar) terlebih dahulu.
  • Tidak memaksakan diri menyelami hakikat zat Allah yang tidak terjangkau akal.
  • Merujuk pada kitab-kitab tafsir otoritatif (seperti Tafsir Ibnu Katsir atau Al-Jalalain).
  • Bertanya kepada ulama atau guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

Baca juga: Bacaan Doa Sayyidul Istighfar Arab, Latin, dan Arti

Kesimpulan

Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat adalah bukti kesempurnaan Alquran yang mengakomodasi keterbatasan akal manusia sekaligus menantang kedalaman ilmu para ulama. Dengan menjadikan ayat muhkamat sebagai kompas dan bersikap hati-hati (wara') terhadap ayat mutasyabihat, kita akan meraih pemahaman agama yang moderat, kokoh, dan jauh dari penyimpangan.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya