Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Hadapi Tantangan AI, Sekolah Kini Fokus Bangun Ketangguhan dan Mental Siswa

Rahmatul Fajri
08/1/2026 19:39
Hadapi Tantangan AI, Sekolah Kini Fokus Bangun Ketangguhan dan Mental Siswa
Ilustrasi(Dok North Jakarta Intercultural School)

PESATNYA perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah arah tujuan pendidikan di tanah air. Sekolah kini didorong untuk tidak lagi sekadar mengejar angka akademik, melainkan fokus membangun ketangguhan (resilience) dan kemampuan adaptasi siswa di tengah kompleksitas kehidupan modern.

Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander, menilai standar kesuksesan siswa saat ini perlu didefinisikan ulang. Menurutnya, nilai rapor yang sempurna tidak lagi menjamin kesiapan anak menghadapi dunia nyata jika tidak dibarengi dengan daya tahan mental.

“Anak dianggap sukses di sekolah bukan sekadar saat meraih nilai A, tetapi ketika mereka mampu menghadapi situasi sulit, mengelola emosi, serta memandang tantangan sebagai bagian dari proses belajar dan bertumbuh,” ujar Ezra melalui keterangannya di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Ezra menjelaskan bahwa pendekatan ini sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) yang menempatkan kemampuan pemecahan masalah, pengelolaan diri, dan adaptabilitas sebagai keterampilan utama di dunia kerja masa depan.

Untuk membangun ketangguhan tersebut, NJIS menekankan pentingnya kesejahteraan emosional (well-being) siswa. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah menerapkan lingkungan belajar bebas ponsel (phone-free environment). Kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan digital dan distraksi media sosial yang kerap memengaruhi fokus serta kesehatan mental generasi muda.

“Kami ingin siswa belajar mengelola teknologi secara sadar, agar kehidupan digital tidak mengambil alih ruang belajar dan relasi sosial mereka secara langsung,” ungkapnya.

Penerapan Pembelajaran Sosial-Emosional

Selain pembatasan gawai, fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif adalah relasi sehat antara guru dan siswa. Hal ini diwujudkan melalui kurikulum Social Emotional Learning (SEL) yang membantu siswa mengenali emosi, membangun empati, dan merasa dihargai sebagai individu.

Ezra juga menambahkan bahwa lingkungan sekolah yang multikultural memberikan nilai tambah bagi ketangguhan siswa. Interaksi lintas budaya secara alami menumbuhkan kemampuan berpikir terbuka dan empati, yang menjadi bekal krusial di dunia yang semakin terhubung.

“Pendidikan perlu kembali pada esensi utamanya, yaitu membentuk manusia seutuhnya. Bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, berempati, dan siap menghadapi kompleksitas kehidupan yang terus berubah cepat,” pungkas Ezra. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik