Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa visi Nahdlatul Ulama (NU) untuk memberikan dampak bagi dunia internasional telah dirintis sejak organisasi ini berdiri. Salah satu wujud konkret dari visi tersebut adalah keterlibatan NU dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Hal itu disampaikan Gus Yahya saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-103 NU yang digelar di Lobi Gedung PBNU, Jakarta, Senin (5/1).
Menurut Gus Yahya, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki makna strategis dalam upaya membangun peradaban. Indonesia, kata dia, menjadi markas utama perjuangan tersebut.
"Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah markasnya, adalah kubu dari perjuangan membangun peradaban," tegasnya.
Ia menjelaskan, sejak awal NU tidak pernah berdiri sendiri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. NU terlibat aktif dalam berbagai gerakan nasional bersama elemen-elemen lain demi mewujudkan Indonesia merdeka.
"Perjuangan tidak bisa didirikan, tidak bisa dilakukan oleh Nahdlatul Ulama sendirian, harus bersama-sama dengan elemen yang lain dan harus ada markasnya," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa visi membangun peradaban yang diusung NU sejalan dengan amanat Proklamasi Kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Ia mengutip pembukaan UUD 1945 yang menegaskan kemerdekaan sebagai hak seluruh bangsa di dunia.
"Kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan," ucapnya.
Gus Yahya menekankan bahwa sejak awal Indonesia didirikan bukan hanya untuk kepentingan kelompok atau suku tertentu, melainkan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.
"Ini jelas sekali bahwa Indonesia ini didirikan dengan cita-cita untuk kemaslahatan segala bangsa. Bukan cuma orang Betawi saja, bukan cuma Sunda, Jawa, Batak, Bugis dan lain-lain saja menjadi bagian Indonesia, tetapi untuk segala bangsa,” sambungnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak seluruh warga NU dan masyarakat Indonesia untuk terus menghidupkan cita-cita peradaban mulia dalam pikiran dan hati. Menurutnya, kekuatan perjuangan hanya dapat terwujud jika semua pihak bersatu.
"Dan tidak ada pilihan menjadi barisan perjuangan yang kuat selain kita harus bersatu," katanya.
Selain menyoroti visi kebangsaan dan peradaban, Gus Yahya turut mengingatkan pesan pendiri NU, Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari, tentang pentingnya menjaga kasih sayang dan persaudaraan di antara sesama Nahdliyin.
"Masuklah kalian semua ke dalam Jamiyyah Nahdlatul Ulama ini dengan mahabbah, dengan rasa cinta, wal widaad, dan kasih sayang. Kalau sudah mau masuk jamiyyah ini harus bisa saling menyayangi sesama jamaah, harus bisa saling mencintai dengan sesama jamaah," tuturnya.
Ia menegaskan bahwa prinsip saling menyayangi merupakan syarat utama menjadi bagian dari NU.
"Kalau tidak bisa, pergi saja, enggak usah ikut NU. Kalau ikut NU harus siap harus menyayangi, karena perintah Hadratusyekh," pungkasnya. (H-2)
Rizki juga menjelaskan dalam narasinya terlapor menganggap bahwa NU dan Muhammadiyah terlibat dalam politik praktis.
Yenny mengaku sempat ditelpon Luhut Panjaitan yang tidak setuju organisasi masyarakat (ormas) diberi tambang. Sejak awal pun, Luhut juga tidak mau tanda tangan, sebab mengelola tambang susah.
Faris menyatakan pesimisme terhadap upaya islah yang telah dilakukan.
Pj Ketum PBNU Zulfa Mustofa menegaskan normalisasi akan dijalankan melalui komunikasi yang intensif dan menyeluruh.
Pleno Syuriyah ini menghasilkan keputusan penting, yaitu penunjukan Zulfa Mustofa sebagai Pejabat (Pj) Ketua Umum PBNU.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved