Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Memasuki puncak musim hujan, ancaman penyakit influenza dan penurunan daya tahan tubuh meningkat drastis. Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik mencari obat mahal. Solusi efektif untuk pencegahan hingga pengobatan flu ternyata tersimpan di rak dapur rumah tangga.
Inggrid menjelaskan bahwa berbagai jenis rimpang dan rempah yang biasa digunakan memasak memiliki senyawa aktif yang kuat untuk mendongkrak sistem imun. Bahan-bahan ini dinilai mampu meredakan gejala umum flu seperti demam, batuk, hingga sesak napas.
“Semua bersifat meningkatkan imunitas atau daya tahan atau kekebalan tubuh. Juga menghangatkan tubuh, juga membantu meredakan demam atau meriang, batuk, pilek, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, atau agak sesak nafas,” ujar Inggrid di Jakarta, Senin (5/1).
Menurut Inggrid, komoditas herbal yang mudah didapatkan seperti jahe, kencur, kunyit, dan temulawak adalah garda terdepan pertahanan tubuh. Selain itu, rempah kering seperti pala, kayu manis, cengkih, dan kapulaga, bahkan bumbu dasar seperti bawang merah dan bawang putih, memiliki khasiat medis yang teruji.
Untuk kasus yang membutuhkan penanganan imunitas lebih spesifik, Inggrid juga merekomendasikan habatus sauda, sambiloto, pegagan, meniran, dan mengkudu.
Terkait dosis konsumsi, Inggrid menyarankan pola minum rutin sebagai langkah preventif. “Untuk pencegahan bisa dikonsumsi 1-2 gelas per hari. Jika sudah bergejala, durasinya bisa ditingkatkan menjadi 3-4 kali sehari,” jelasnya.
Bagi masyarakat yang mengalami kelelahan ekstrem akibat aktivitas padat pascaliburan atau beban kerja tinggi, Inggrid memberikan resep kombinasi khusus. Ia menyarankan campuran jahe, kunyit, temulawak, dan lada hitam dalam satu ramuan.
Guna menetralisir rasa rempah yang kuat, penggunaan madu sangat disarankan. “Madu tidak hanya sebagai pemanis tapi juga mempunyai khasiat,” tambahnya. Ia juga menyebut bahwa produk herbal kemasan atau obat bahan alam yang telah memiliki izin edar Badan POM bisa menjadi alternatif praktis jika tidak sempat meracik sendiri.
Selain herbal, Inggrid menekankan pentingnya asupan mikronutrien. Ia mendesak masyarakat untuk memperhatikan kadar Vitamin D3 dalam darah, mengingat paparan sinar matahari di musim hujan seringkali minim. Suplemen Vitamin C, D, A, E, serta mineral seperti Zinc dan Selenium juga direkomendasikan untuk membentengi tubuh.
Namun, ia memperingatkan bahwa suplemen herbal akan sia-sia jika pola makan tidak dijaga. “Jangan konsumsi makanan instan atau fast food. Sudah pasti kita tidak akan bisa menjaga diri dari flu kalau kita makan seperti itu,” pungkasnya.
Wakil Bupati Toba Audi Murphy O. Sitorus menegaskan keberadaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bukan untuk membatasi atau melarang para pelaku usaha di bidang obat tradisional.
PADA semester I 2025, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung masih menemukan obat bahan alam (OBA) atau obat herbal yang mengandung bahan kimia obat di pasaran.
Kandungan zat bioaktif dalam jahe emprit seperti gingerol dan minyak atsiri sangat tinggi, menjadikannya unggul untuk pengolahan obat tradisional dan jamu.
Lebih dari 15 jenis tanaman herbal Indonesia telah ditanam di greenhouse tersebut, antara lain jahe merah, jahe gajah, kunyit, pohon bidara, pohon katuk, serai wangi, saga, dan tapak dara.
Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR., dikenal sebagai pakar yang menekuni penelitian obat-obat tradisional untuk penerapannya dalam dunia medis modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved