Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Super Flu: Bahayanya bagi Kelompok Rentan dan Cara Pencegahan

Ficky Ramadhan
03/1/2026 15:33
Super Flu: Bahayanya bagi Kelompok Rentan dan Cara Pencegahan
Ilustrasi(Freepik)

Meningkatnya pemberitaan mengenai penyakit yang disebut sebagai super flu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait perlunya penggunaan obat antivirus untuk influenza. Meski sebagian besar kasus flu bersifat ringan dan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa antivirus tetap dibutuhkan pada kelompok tertentu.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahwa secara umum flu tidak memerlukan terapi antivirus. Namun, pada kondisi tertentu, pengobatan khusus menjadi penting.

"Sebagian besar influenza bersifat ringan dan cukup ditangani dengan obat simptomatik. Namun, WHO merekomendasikan pemberian antivirus pada pasien dengan gejala berat dan mereka yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi," kata Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (3/1).

Menurut WHO, kelompok berisiko tinggi tersebut meliputi ibu hamil, anak di bawah usia enam tahun, lansia di atas 65 tahun, penderita penyakit kronik, pasien yang sedang menjalani kemoterapi, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh rendah, termasuk pengidap HIV dan kondisi imunosupresi lainnya.

Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa obat antivirus influenza merupakan obat resep dokter yang berfungsi meringankan gejala dan memperpendek durasi sakit. Efektivitas obat ini paling optimal apabila diberikan dalam satu hingga dua hari sejak gejala pertama muncul.

CDC merekomendasikan pemberian antivirus kepada pasien influenza yang dirawat di rumah sakit, pasien dengan gejala super flu sangat berat meski tidak dirawat, serta individu berisiko tinggi berdasarkan usia dan kondisi medis tertentu, seperti ibu hamil, penderita asma, penyakit paru kronik, diabetes, dan penyakit jantung.

"Antivirus bukan untuk semua orang yang flu, tetapi sangat penting bagi kelompok berisiko karena dapat mencegah perburukan penyakit dan komplikasi serius," ujarnya.

Dalam publikasi terbarunya pada November 2025, CDC merekomendasikan empat jenis obat antivirus influenza yang telah mendapatkan persetujuan Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat. Keempat obat tersebut adalah oseltamivir phosphate (Tamiflu), zanamivir (Relenza), peramivir (Rapivab), dan baloxavir marboxil (Xofluza).

Oseltamivir tersedia dalam bentuk kapsul dan cairan, sedangkan zanamivir berbentuk bubuk inhalasi. Zanamivir tidak dianjurkan bagi pasien dengan asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Kedua obat ini umumnya diberikan dua kali sehari selama lima hari.

Peramivir diberikan melalui suntikan intravena dan dapat digunakan pada pasien usia enam bulan ke atas. Sementara itu, baloxavir marboxil tersedia dalam bentuk tablet, diberikan sekali sehari, dan dapat digunakan pada anak usia lima tahun ke atas.

Baloxavir juga dapat dimanfaatkan sebagai pencegahan influenza melalui skema post-exposure prophylaxis, yakni diberikan setelah seseorang diduga terpapar virus dari penderita flu.

"Penggunaan antivirus harus berdasarkan indikasi medis dan resep dokter. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh meremehkan influenza, terutama pada kelompok rentan," tuturnya. (Fik)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya