Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kerabat Dekat Burung Dodo Terpantau Muncul Kembali di Samoa

Thalatie K Yani
26/12/2025 09:57
Kerabat Dekat Burung Dodo Terpantau Muncul Kembali di Samoa
Burung Manumea, kerabat dekat Dodo yang sangat langka, terlihat beberapa kali di hutan Samoa. Temuan ini menjadi secercah harapan di tengah ancaman kepunahan.( Whitney Isenhower)

HARAPAN menyelamatkan burung Manumea (Didunculus strigirostris) dari ambang kepunahan kembali membubung. Salah satu kerabat terdekat burung Dodo yang telah punah ini dilaporkan terlihat sebanyak lima kali dalam survei lapangan terbaru yang dilakukan Samoa Conservation Society (SCS).

Temuan yang berlangsung dalam periode 17 Oktober hingga 13 November tersebut menjadi angin segar bagi dunia konservasi. Pasalnya, survei-survei sebelumnya seringkali tidak membuahkan hasil sama sekali. Foto terakhir spesies misterius ini di alam liar diambil lebih dari satu dekade lalu, tepatnya pada 2013.

"Itu adalah kekhawatiran kami," ujar Moeumu Uili, koordinator proyek Manumea di SCS. "Apa yang terjadi jika kita tidak bisa menemukan burung itu? Apakah itu berarti Manumea sudah tidak ada lagi?"

Tantangan Menemukan "Dodo Kecil"

Meski keberadaannya telah terkonfirmasi, tim peneliti mengakui kesulitan untuk mendokumentasikan burung seukuran ayam ini. Pergerakannya yang sangat cepat, jarak pantau yang jauh, serta kondisi cuaca hujan menjadi kendala utama.

"Tiba-tiba saja ia muncul entah dari mana," kata Uili kepada Live Science. "Saat kami melihat melalui teropong, kami bisa melihat burung itu. Namun saat kami menurunkan teropong untuk mengambil kamera, burung itu sudah menghilang."

Secara ilmiah, Manumea dikenal sebagai satu-satunya spesies yang masih hidup dari genus Didunculus. Nama ilmiahnya secara harfiah berarti "Dodo Kecil". Seperti kerabatnya, Dodo, Manumea diklasifikasikan sebagai burung merpati darat pulau.

Ancaman Spesies Invasif

Pada awal 1990-an, populasi Manumea diperkirakan mencapai 7.000 ekor. Namun, perusakan habitat, perburuan, dan serangan spesies invasif membuat populasinya anjlok drastis menjadi sekitar 50-150 ekor pada 2024.

Meskipun perburuan kini telah dilarang, ancaman utama saat ini berasal dari predator invasif seperti kucing liar dan tikus. Kucing memburu burung dewasa dan anak-anaknya, sementara tikus memakan telur-telur mereka.

"Dampaknya terhadap Manumea tentu sangat katastropik," ungkap Joe Wood, manajer Program Konservasi Internasional di Toledo Zoo. Ia menekankan perlunya program pengendalian predator yang ketat untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini.

Upaya Penyelamatan di Masa Depan

Para ahli kini mempertimbangkan berbagai langkah medis dan teknologi untuk menyelamatkan Manumea. Salah satunya adalah metode biobanking untuk menyimpan sampel biologis guna mempelajari materi genetik burung tersebut. Informasi ini nantinya akan digunakan untuk menentukan langkah terbaik, seperti potensi penangkaran untuk meningkatkan populasi.

Selain itu, dukungan juga datang dari Colossal Biosciences yang membangun aplikasi untuk membedakan kicauan Manumea guna mendapatkan estimasi populasi yang lebih akurat.

Meski teknologi canggih terus dikembangkan, para ahli seperti Nic Rawlence dari University of Otago menekankan bahwa penyelamatan spesies ini tetap bergantung pada kerja keras di lapangan. "Saya pikir ini tetap akan bergantung pada kerja keras pengendalian predator, restorasi habitat, dan translokasi," pungkasnya. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik