Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Lebih dari 150 Lokasi, Infrastruktur SPPG Jadi Kunci Program MBG Miliki Standar Mutu Sama

Despian Nurhidayat
18/12/2025 17:55
Lebih dari 150 Lokasi, Infrastruktur SPPG Jadi Kunci Program MBG Miliki Standar Mutu Sama
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Pemerataan kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan kesiapan guru, infrastruktur, atau materi pembelajaran, tapi juga kondisi dasar yang mempengaruhi konsentrasi belajar, yakni kecukupan gizi harian.

Guna menjawab kebutuhan itu, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berkomitmen membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai dapur modern di berbagai daerah.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pada tahun ini pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Direktorat Jenderal Prasarana Strategis (DJPS) mencapai lebih dari 150 lokasi di sejumlah provinsi, dan sebagai bagian dari penyediaan infrastruktur sosial secara merata.

"SPPG jadi infrastruktur kunci untuk memastikan program MBG memiliki standar mutu sama setiap daerah. Tanpa fasilitas penyimpanan dingin, sistem sanitasi, dan dapur produksi terstandar, mutu makanan sangat bergantung pada kapasitas tiap wilayah," katanya, Rabu (17/12). 

Melalui pembangunan SPPG, jelas Dody, pemerintah berupaya mengurangi kesenjangan. Setiap unit dapur dirancang untuk melayani ratusan hingga ribuan penerima manfaat per hari sehingga anak-anak perkotaan dan daerah terpencil menerima makanan bergizi dengan mutu relatif setara.

Dalam konteks pendidikan, gizi bagian dari ekosistem pembelajaran. Berbagai kajian internasional menunjukkan anak dengan asupan gizi cukup memiliki tingkat konsentrasi dan ketahanan belajar lebih baik.

"Karena itu, pembangunan SPPG tidak hanya dipandang sebagai intervensi kesehatan, tapi juga intervensi pendidikan. Dengan tersedianya makanan bergizi secara rutin, sekolah memperoleh dukungan non-akademik yang berdampak langsung pada proses belajar mengajar," terang Dody.

Ia menjelaskan fasilitas yang dibangun DJPS dirancang untuk beroperasi dalam skala produksi besar. Setiap SPPG mengacu pada desain prototipe nasional yang memungkinkan dapur memproduksi 800 hingga lebih dari 2.000 porsi makanan per hari, tergantung pada kebutuhan daerah. 

"Model konstruksi modular diterapkan untuk mempercepat pembangunan, sementara desain ruang produksi dibuat terpisah antara area bahan mentah dan area makanan jadi. Sistem cold chain, instalasi pengolahan limbah, serta ventilasi khusus memastikan dapur tetap higienis meski beroperasi dengan intensitas tinggi," papar Dody.

Selain mendukung sektor pendidikan, pembangunan SPPG memberikan dampak ekonomi lokal. Dengan konsep pengadaan bahan pangan berbasis daerah, dapur MBG menciptakan permintaan rutin pada produk petani, peternak, dan pelaku UMKM setempat.

"Pada skala nasional, ratusan dapur yang beroperasi secara bersamaan membentuk rantai pasok pangan yang stabil. Di sisi lain, pengelolaan SPPG melibatkan tenaga kerja lokal yang mendapatkan pelatihan keamanan pangan dan manajemen produksi, sehingga infrastruktur ini sekaligus membangun kapasitas sumber daya manusia daerah," jelasnya.

Ia mengatakan dari sudut pandang pemerataan pembangunan, SPPG jadi simbol kehadiran negara di wilayah yang selama ini minim fasilitas pangan terstandar. Dengan pembangunan dapur MBG di puluhan provinsi dan ratusan titik layanan, akses terhadap makanan bergizi tidak lagi bergantung pada kemampuan sekolah atau komunitas setempat.

"Negara hadir melalui infrastruktur, khusus untuk menjangkau kebutuhan dasar anak-anak secara berkelanjutan," katanya.

Dalam jangka panjang, jelas dia, SPPG berkontribusi pada peningkatan kualitas SDM. Gizi yang baik berdampak pada daya pikir, kesehatan, dan kesiapan belajar, sehingga memengaruhi produktivitas generasi mendatang.

Karena itu, kata dia, DJPS menempatkan pembangunan infrastruktur gizi sebagai bagian dari agenda strategis, sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

"Dengan seluruh fungsi itu, SPPG bukan sekadar dapur produksi makanan, melainkan sebagai infrastruktur pendidikan tidak langsung yang bekerja di balik layar. Saat negara membangun SPPG, maka yang sedang dibangun sesungguhnya adalah fondasi masa depan," pungkas Dody.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya