Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Obat Laktulosa dan PEG-4000 Mengatasi Sembelit pada Anak Cerebral Palsy

M Iqbal Al Machmudi
17/12/2025 12:28
Obat Laktulosa dan PEG-4000 Mengatasi Sembelit pada Anak Cerebral Palsy
Ilustrasi.(freepik)

CELEBRAL Palsy merupakan salah satu gangguan pada otak anak yang dapat menyebabkan terhambatnya kemampuan anak dalam  bergerak dan menjaga keseimbangan tubuh. Celebral palsy terjadi akibat kerusakan otak saat bayi atau masih dalam kandungan dan menetap seumur hidup. 

Berdasarkan laman Universitas Airlangga menjelaskan bahwa konstipasi atau yang biasanya disebut sembelit sering dialami oleh anak dengan celebral palsy. Data dari beberapa penelitian menunjukkan, kejadian sembelit pada anak dengan celebral palsy berkisar antara 26% hingga 74%. 

Sembelit bisa terjadi dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan nyeri perut, gangguan nafsu makan dan infeksi saluran pencernaan. 

Faktor yang dapat meningkatkan keparahan kejadian sembelit pada anak dengan celebral palsy meliputi kurangnya gerakan tubuh, terganggunya fungsi saraf usus, kesulitan dalam menelan makanan, dan penggunaan obat tertentu. 

Kumpulan beberapa faktor tersebut menyebabkan anak mengalami kondisi sembelit kronis, yaitu sembelit yang berlangsung selama bertahun-tahun apabila tidak segera ditangani.

Kejadian sembelit memerlukan pengobatan yang tepat. Laktulosa dan PEG-4000 (Polyethylene Glycol) merupakan obat yang sering diberikan untuk pengobatan sembelit pada anak. Laktulosa berupa cairan manis, sedangkan PEG-4000 berupa bubuk yang nantinya dilarutkan dalam air. 

Kedua obat tersebut berperan dalam menarik air ke dalam tinja sehingga tinja menjadi lebih mudah untuk keluar. Penelitian sebelumnya yang dilaksanakan di RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2018 menunjukkan bahwa laktulosa menjadi obat yang dapat mengatasi kejadian sembelit pada anak dengan celebral palsy.

Seiring perkembangan pengetahuan, penelitian yang lain juga pernah dilakukan untuk melihat efektivitas obat PEG-4000 dalam mengatasi kejadian sembelit pada anak. Beberapa penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa PEG-4000 lebih efektif digunakan untuk mengatasi sembelit anak dibandingkan laktulosa. 

Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan bertujuan untuk studi perbandingan efektivitas antara obat laktulosa dan PEG-4000 dalam mengatasi permasalahan sembelit anak dengan celebral palsy di Indonesia.

Penelitian yang dilakukan melibatkan 40 anak dengan celebral palsy yang mengalami sembelit di RSUD Dr.Soetomo. Penelitian ini berlangsung antara November 2018 hingga April 2019. Sampel penelitian mendapatkan terapi laktulosa dan terapi PEG-4000 selama empat minggu dengan masing masing sebanyak 20 anak. Usia anak yang terlibat dalam penelitian berkisar 2 tahun hingga 8 tahun. 

Hasil penelitian yang dilakukan selama empat minggu itu menujukkan bahwa kedua kelompok yang diberikan terapi laktulosa dan terapi PEG-4000 menunjukkan perbaiki kondisi yang relatif sama. Rata-rata Buang Air Besar (BAB) anak yang diberikan terapi PEG-4000 meningkat dari 1,8 kali menjadi 2,8 kali per minggu, sedangkan rata-rata anak yang diberikan terapi laktulosa meningkat dari 1,7 kali menjadi 2,7 kali perminggu. 

Tekstur feses kedua kelompok juga mengalami perubahan dari sebelumnya. Sebelum pemberian terapi feses bertekstur keras, namun setelah diberikan terapi, sebagian besar anak mengeluarkan feses yang bertekstur lebih lembek sehingga mudah untuk dikeluarkan. 

Keluhan yang dirasakan beberapa anak hanya perut kembung (flatulensi) dan tidak ada efek samping yang berat. Jumlah anak yang memiliki keluhan relatif sama di masing-masing kelompok.

Tidak ada perbedaan signifikan secara statistik antara pemberian terapi laktulosa dan terapi PEG-4000 pada anak, sehingga dapat disimpulkan bahwa laktulosa tidak kalah efektif dibandingkan PEG-4000. 

Laktulosa dan PEG-4000 sama-sama efektif dan aman untuk mengatasi sembelit pada anak dengan CP. Kedua obat dapat dijadikan pilihan yang tepat untuk mengatasi sembelit pada anak dengan CP, terutama difasilitas kesehatan dengan sumber daya yang terbatas. 

Keterbatasan dari penelitian yang dilakukan memiliki keterbasan dalam jumlah peserta peneliti dan durasi penelitian yang relatif singkat. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan waktu yang relatif lama untuk menilai efektivitas terapi dalam jangka panjang. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya