Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Dwi Pratiwi, menemukan di wilayah kerjanya masih ada siswa SD, SMP, hingga SMA yang belum lancar berbahasa Indonesia bahkan membaca.
"Perlu digarisbawahi bahwa masih banyak siswa di SD, SMP, bahkan SMA yang belum bisa berbahasa Indonesia. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Sasak, bahkan belum bisa atau belum mampu membaca dengan baik, itu masih banyak," kata Dwi saat ditemui di Balai Bahasa Provinsi NTB, Selasa (16/12).
Ia menjelaskan dengan masih sulitnya siswa berbahasa Indonesia maka ada korelasinya dengan membaca dan menulis. Ketika membaca saja juga masih belum lancar, tulisannya juga masih sangat lemah.
"Temuan itu berdasarkan laporan dari guru-guru di sekolah hingga tim dari Balai Bahasa NTB yang terjun langsung. Mereka menemukan siswa di wilayah Sumbawa dan Lombok Barat saat didatangi untuk diuji keterbacaan buku dan cek langsung untuk membaca satu kalimat ternyata itu ketahuan belum bisa membaca dengan baik, apalagi memahami makna," ungkap Dwi.
Selain itu, untuk di daerah-daerah pedalaman masih kuat dengan bahasa daerahnya. Sehingga peran bahasa daerah diharapkan bisa menjadi pengantar para siswa memahami bahasa Indonesia dengan lebih baik.
Mengatasi masalah membaca di lingkungan siswa tersebut, Balai Bahasa NTB melaksanakan penguatan program-program yang ada dengan peningkatan kecakapan literasi.
Di tingkat SD menyosialisasikan buku-buku cerita anak terbitan Balai Bahasa dan mendampingi siswa cerdas mengulas buku untuk siswa, kemudian membaca cepat untuk siswa SMP, dan membaca analitis di tingkat SMA.
"Dengan program itulah kami baru tahu bahwa ternyata banyak siswa yang belum bisa membaca, dan ini pengakuan dari guru. Sementara di Lombok Tengah terutama banyak yang siswanya belum bisa bahasa Indonesia," pungkasnya. (Iam/I-1)
Hasil analisis BMKG memperlihatkan kemunculan gelombang frekuensi rendah dan gelombang ekuatorial Rossby yang aktif di sekitar wilayah NTB
Amran menegaskan, kunci swasembada bawang putih terletak pada keberanian menetapkan target luas tanam yang memadai dan konsistensi kerja di lapangan.
Periode 1-10 Februari 2026 atau dasarian I Februari terdapat peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian sebesar 70 hingga lebih dari 90 persen.
Sirkulasi angin dari sistem tekanan rendah tersebut, menurutnya, masih cukup kuat untuk memicu hembusan angin kencang di wilayah NTB, meski tidak sebesar dampak Bibit Siklon Tropis 97S
Berikut prakiraan cuaca Senin 12 Januari 2026 untuk kota-kota besar di Indonesia dikutip dari BMKG
Pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu di provinsi kepulauan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved