Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemenkebud), melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat, mengambil langkah strategis dengan merelokasi Prasasti Muara Cianten. Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ini dipindahkan dari lokasi asalnya di tepi Sungai Cisadane, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk melindunginya dari ancaman ekologis seperti banjir dan erosi.
Prasasti Muara Cianten, yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, selama bertahun-tahun menghadapi kerusakan parah akibat debit air sungai yang tidak menentu.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, Retno Raswaty, menjelaskan pentingnya tindakan ini.
"Dari tahun ke tahun, prasasti ini mengalami ancaman banjir dan erosi. Untuk mengatasi ancaman tersebut, Balai Pelestarian Kebudayaan mulai melakukan studi untuk pelestarian Prasasti Muara Cianten," kata Retno,, Senin (8/12).
Upaya pelindungan terhadap prasasti ini bukanlah hal baru. BPK Wilayah IX telah memulai kajian pelindungan sejak 2008, yang kemudian diikuti oleh serangkaian studi mendalam hingga tahun lalu.
Proses pemindahan ini dipastikan menempuh prosedur yang aman, setelah melalui pengkajian oleh Tim Ahli Cagar Budaya dan Balai Arkeologi (yang kini berada di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN).
Relokasi dilakukan ke lokasi baru yang berada tidak jauh dari tempat penemuan, namun ditempatkan di tanah yang lebih tinggi sehingga terhindar dari ancaman air. Proses pemindahan ini diperkirakan rampung pada 27 Desember 2025.
Retno menambahkan bahwa proses krusial ini terlaksana berkat kolaborasi lintas instansi.
"Proses pemindahan Prasasti Muara Cianten dilakukan dengan melakukan kolaborasi lintas instansi, mulai dari pemerintah Kabupaten Bogor, dinas kebudayaan setempat, Komando Distrik Militer (Kodim) hingga peneliti dan arkeolog agar proses pemindahan berjalan aman dan lancar," ungkapnya.
Prasasti Muara Cianten merupakan salah satu dari tujuh prasasti penting peninggalan Kerajaan Tarumanegara, sebuah kerajaan Hindu kuno yang berjaya di Jawa Barat.
Prasasti ini ditemukan pada 1864 oleh N.W. Hoeparmans dan memiliki keunikan berupa ukiran pada batu andesit dengan aksara ikal yang hingga kini belum dapat dibaca oleh para ahli.
Di masa mendatang, kawasan relokasi ini diproyeksikan menjadi titik awal kunjungan kawasan prasasti-prasasti Tarumanegara. Untuk mendukung fungsi edukasi, Kemenkebud juga berencana membangun pusat informasi agar pengunjung bisa mendapatkan pengetahuan awal yang komprehensif mengenai kerajaan tersebut beserta peninggalannya.
"Semoga Prasasti Muara Cianten ini bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi pelajar maupun masyarakat luas. Selain untuk edukasi, relokasi Prasasti Muara Cianten merupakan bagian dari upaya pembangunan ekosistem kebudayaan, serta peningkatan jati diri bangsa kepada generasi penerus," tutup Retno. (Ant/Z-1)
"Kami melihat ada beberapa rumah masyarakat yang telah rusak dan tidak layak huni karena tersapu aliran Batang Baiang.Segera kami relokasi ke tempat yang aman,"
Melalui dialog yang terbuka dan transparan tersebut, sejumlah kesepahaman berhasil dicapai antara warga dan Pemkot Jakarta Selatan, antara lain penyediaan hunian relokasi.
MEMASUKI hari keenam, pencarian terhadap 7 korban yang masih tertimbun di Cilacap, Jawa Tengah belum membuahkan hasil meskipun alat berat telah dikerahkan. Pemkab siapkan relokasi
PEMERINTAH provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menyiapkan dana Rp400 miliar untuk melakukan relokasi warga dua dusun korban longsor Cilacap, Jawa Tengah.
Warga yang direlokasi berasal 2.209 keluarga. Mereka akan menempati lahan seluas 130 hektare.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved