Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Ternyata Manusia Purba Lebih Banyak Memproses Tanaman daripada Berburu Daging

Thalatie K Yani
08/12/2025 08:33
Ternyata Manusia Purba Lebih Banyak Memproses Tanaman daripada Berburu Daging
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH studi arkeologi terbaru menantang pandangan populer manusia purba terutama hidup dari berburu daging. Penelitian yang dilakukan tim Australian National University (ANU) dan University of Toronto Mississauga (UTM) ini menunjukkan  sejak ratusan ribu tahun lalu, manusia sudah mengolah beragam tanaman jauh sebelum pertanian muncul. Mereka mengolah mulai dari menggiling biji-bijian hingga memasak umbi dan mengolah kacang beracun.

Studi ini menghimpun bukti dari hampir dua juta tahun data arkeologi yang sebelumnya tersebar dan tidak saling terhubung. Hasilnya menampilkan gambaran manusia memiliki pola makan jauh lebih fleksibel dan berbasis tanaman.

Tanaman Memegang Peran Energi Utama

Pemahaman populer tentang diet paleolitik sering menggambarkan manusia purba sebagai pemburu daging yang menghindari biji-bijian dan pati. Namun temuan arkeologi serta bukti biologis menunjukkan sebaliknya. Menurut pemimpin riset, S. Anna Florin, manusia sejak awal merupakan spesies dengan pola makan luas yang sangat bergantung pada makanan nabati yang diolah.

“Kita sering membahas penggunaan tanaman seolah hal itu baru menjadi penting ketika pertanian muncul,” ujar Florin. Temuan terbaru justru menunjukkan keragaman makanan ini telah menjadi bagian normal kehidupan manusia jauh sebelum akhir Paleolitik.

Dapur-Dapur Purba di Berbagai Benua

Di situs Ohalo II, Israel utara, para arkeolog menemukan puluhan ribu sisa rumput dan serealia dari periode Paleolitik akhir. Sisa-sisa itu ditemukan berdampingan dengan batu penggiling yang masih menyimpan jejak pati.

Di Madjedbebe, Australia utara, analisis arkeologi mengidentifikasi potongan hangus ubi yam, empulur palem, dan kacang pandanus. Temuan ini mengungkap manusia awal di wilayah tersebut menumbuk, menggiling, dan memasak tanaman keras untuk mendapatkan kalori yang tersimpan di dalamnya.

“Kemampuan untuk mengolah makanan nabati ini memungkinkan kami untuk mendapatkan kalori dan nutrisi penting, serta untuk bergerak dan berkembang di berbagai lingkungan di seluruh dunia,” kata Monica N. Ramsey.

Peran Vital Tanaman dalam Kelangsungan Hidup

Manusia tidak dapat bertahan hidup hanya dengan protein hewani dalam jumlah besar. Kondisi kekurangan gizi yang dikenal sebagai “rabbit starvation” tercatat terjadi pada para penjelajah ketika lemak hewani dan sumber tanaman langka. Penelitian global terhadap 229 kelompok pemburu-peramu menunjukkan, meskipun banyak kelompok memperoleh lebih dari setengah kalorinya dari hewan, tanaman tetap menjadi sumber karbohidrat penting.

Jejak Genetik Konsumsi Pati

Penelitian terbaru menunjukkan manusia, Neanderthal, dan Denisovan telah lama memiliki salinan ekstra gen amilase saliva, enzim pencerna pati, yang menunjukkan sejarah panjang konsumsi pati. Pola genetik ini sejalan dengan bukti arkeobotani mengenai pemanfaatan rumput liar, umbi, dan buah.

Manusia Berevolusi sebagai Pengolah Tanaman

Debat mengenai “apa yang seharusnya dimakan manusia” sering mengabaikan fakta tubuh manusia berevolusi bersama berbagai jenis tanaman dan teknik memasaknya.

“Spesies kita berevolusi menjadi pecinta tumbuhan, pecinta makanan yang menggunakan alat, dan bisa mengubah hampir apa pun menjadi makan malam,” ujar Ramsey.

Studi yang terbit di Journal of Archaeological Research ini memperlihatkan bahwa sejak dulu manusia memiliki diet kreatif dan beragam, dibentuk oleh adaptasi terhadap lingkungan lokal dan tradisi memasak yang terus berkembang. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya