Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Guru Besar IPB: Pohon yang Tumbang Alami Tidak Akan Berjumlah Banyak

Media Indonesia
05/12/2025 11:46
Guru Besar IPB: Pohon yang Tumbang Alami Tidak Akan Berjumlah Banyak
Lautan kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang di Aceh.(MI/ Amiruddin Abdullah Reubee)

GURU Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Prof Dr Ir Bambang Hero Saharjo, MAgr menyatakan tumpukan material kayu gelondongan yang ditemukan di lokasi bencana longsor dan banjir bandang di Sumatra menunjukkan indikasi keterlibatan aktivitas manusia.

 

Prof Bambang yang juga Kepala Pusat Studi Bencana IPB University menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak sepenuhnya dapat dijelaskan sebagai kayu lapuk atau dampak runtuhan alami, katanya sebagaimana informasi yang diperoleh dari IPB University, Kota Bogor, Jumat (5/12).

 

Dalam penjelasannya, Prof Bambang mengaitkan temuan tersebut dengan kasus serupa yang pernah dia tangani beberapa tahun lalu di kawasan lindung Sumatra Utara (Sumut). Hutan yang masih sehat memiliki struktur tajuk yang rapat dan bertingkat, mestinya mampu memecah dan menahan laju air hujan.

 

“Walaupun ada air, dia tidak langsung ke permukaan. Dia (air) jatuh di tajuk (daun), pecah, kemudian sebagian mengalir melalui batang atau stem flow, katanya menjelaskan.

 

Prof Bambang menambahkan keberadaan tumbuhan bawah dan serasah berperan penting dalam menyerap air serta menjaga kestabilan ekosistem hutan. Lapisan vegetasi yang berjenjang, mulai dari tajuk atas hingga vegetasi bawah, merupakan sistem penyangga alami yang menjaga keseimbangan lingkungan. “Tuhan menciptakan ini tentu saja untuk kebaikan manusia dan lingkungannya,” katanya.

 

Lebih lanjut, ia mengatakan tumbangnya satu atau dua pohon dalam kondisi alami bukan merupakan ancaman bagi ekosistem.“Pohon ini, ya, kalaupun tumbang, itu tidak banyak. Paling hanya satu, dua, dan itu alami,” katanya.

 

Prof Bambang menerangkan sistem pengakaran pohon tua yang kuat membuat hutan tetap stabil, dan ketika satu pohon tumbang, ruang kosong tersebut segera diisi oleh regenerasi spesies baru. Menurutnya, masalah muncul ketika aktivitas pembalakan liar memasuki kawasan hutan.

 

Gangguan pada vegetasi menghilangkan kerapatan tajuk dan membuka celah yang memicu perubahan drastis dalam aliran air serta kestabilan tanah. “Pada kondisi seperti ini, ketika pembalakan liar masuk, maka celah antara tajuk semakin terbuka,” tukasnya.

 

Hilangnya fungsi tajuk menyebabkan air hujan jatuh langsung ke permukaan tanah tanpa proses pemecahan alami, sehingga erosi berlangsung lebih cepat dan risiko longsor meningkat. “Kayu-kayu besar yang ditemukan pasca-bencana merupakan konsekuensi dari kerusakan lapisan-lapisan vegetasi akibat aktivitas manusia tersebut,” katanya. (Ant/M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya