Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Dospulkam IPB Hadirkan Teknologi Adaptasi Iklim Atasi Krisis Air

Wisnu Arto Subari
01/12/2025 15:26
Dospulkam IPB Hadirkan Teknologi Adaptasi Iklim Atasi Krisis Air
(MI/HO)

KRISIS air bersih yang semakin sering terjadi saat musim kemarau mendorong SMAN 1 Sukanagara mencari solusi jangka panjang. Pada 7-9 November 2025, tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University memasang sistem pemanen air hujan cerdas berbasis energi surya, inovasi adaptasi iklim yang dirancang untuk membantu sekolah mengatasi ketidakstabilan pasokan air bersih.

Selama beberapa tahun terakhir, wilayah Sukanagara mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan tidak menentu. Sumur bor sekolah kerap tidak mencukupi, sementara distribusi PDAM sering terputus. Kondisi ini berdampak langsung pada proses belajar mengajar, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti wudu, kebersihan ruang kelas, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

"Kita melihat pola musim yang berubah. Kemarau makin panjang, sumber air makin tidak stabil. Sekolah-sekolah seperti SMAN 1 Sukanagara merasakan dampaknya secara langsung. Karena itu, teknologi pemanen air hujan bukan lagi alternatif, tetapi kebutuhan dalam adaptasi iklim," ujar Dr. Medria Kusuma Dewi Hardhienata, ketua tim Dospulkam IPB University, dalam keterangan resmi, Senin (1/12).

Teknologi pemanen air hujan cerdas (smart rain harvesting system) lahir dari kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan pakar dari IPB University (Medria Kusuma Dewi Hardhienata, Wulandari, Andrew Schauf), Universitas Indonesia (Sheila Tobing, Gabriella Averina Lumban Siantar, dan Emir Raya Syuhada), Energy Studies Institute (ESI) National University of Singapore (Sita Rahmani), dan Commcap (Takhta Pandu Padmanegara).

Perangkat ini dilengkapi sensor turbidity untuk memantau kualitas air, flow sensor untuk mengukur aliran air, serta dashboard internet of things (IoT) yang menampilkan data penggunaan air secara real-time. Didukung panel surya, seluruh sistem dapat beroperasi secara mandiri bahkan ketika terjadi pemadaman listrik. 

Selama tiga hari pemasangan, tim melakukan instalasi panel surya, kalibrasi sensor, pengujian sistem data, hingga verifikasi fungsi keseluruhan perangkat. Menurut Medria, langkah ini menunjukkan teknologi sederhana tetapi tepat guna bisa memperkuat ketahanan komunitas dalam menghadapi perubahan iklim. 

"Curah hujan di Sukanagara sebenarnya tinggi. Ironi kalau sekolah tetap kekurangan air. Dengan sistem ini, kita memanfaatkan hujan yang sebelumnya terbuang dan mengubahnya menjadi sumber air yang stabil dan terpantau," jelasnya. (I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya