Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Fruktosa Picu Sel Imun Bereaksi Berlebihan, Tingkatkan Risiko Peradangan dan Infeksi

Thalatie K Yani
01/12/2025 12:29
Fruktosa Picu Sel Imun Bereaksi Berlebihan, Tingkatkan Risiko Peradangan dan Infeksi
Ilustrasi(freepik)

PENELITIAN terbaru mengungkapkan konsumsi fruktosa dapat membuat sel imun menjadi lebih sensitif terhadap racun bakteri. Dalam studi yang melibatkan orang dewasa sehat, minuman manis berbahan fruktosa terbukti meningkatkan jumlah reseptor pada sel imun yang bertugas memicu reaksi peradangan. Peningkatan sensitivitas ini dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi, terutama pada mereka yang memiliki penyakit metabolik.

Meski ilmu kedokteran berkembang pesat, infeksi yang disebabkan virus maupun bakteri masih menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia. Hal ini mendorong peneliti untuk kembali menelaah bagaimana nutrisi tertentu dapat mempengaruhi sistem pertahanan tubuh. Tim peneliti yang dipimpin Ina Bergheim dari Department of Nutritional Sciences, University of Vienna, menunjukkan untuk pertama kalinya monosit, bereaksi lebih kuat terhadap racun bakteri setelah seseorang mengonsumsi fruktosa. Respons ini justru bersifat merugikan, bukan melindungi. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Redox Biology.

Untuk membuktikan efek tersebut, para peneliti menjalankan dua studi terkontrol yang melibatkan orang dewasa sehat. Mereka membandingkan respons imun setelah konsumsi minuman manis berbahan fruktosa dengan minuman manis berbahan glukosa. Tim juga meneliti monosit secara terpisah melalui kultur sel untuk memahami mekanisme biologis yang mendasari fenomena ini.

Fruktosa Picu Kenaikan Reseptor Pendeteksi Racun pada Sel Imun

Hasil penelitian menunjukkan fruktosa, tidak seperti glukosa, meningkatkan kadar Toll-like receptor 2 (TLR2) dalam monosit. TLR2 memiliki peran penting dalam mengatur cara tubuh merespons ancaman. Kenaikan reseptor ini membuat sel imun lebih sensitif terhadap lipoteichoic acid, racun yang berasal dari bakteri.

“Konsentrasi reseptor terhadap racun tersebut dalam tubuh meningkat, yang berarti respons inflamasi meningkat,” jelas Bergheim. Peneliti juga mencatat pelepasan senyawa pro-inflamasi meningkat, termasuk interleukin-6, interleukin-1?, dan tumor necrosis factor-alpha.

Temuan ini memberikan kontribusi penting untuk memahami bagaimana masing-masing komponen makanan, khususnya fruktosa, dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi fruktosa tinggi dalam jangka pendek pada orang sehat pun dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan peradangan.

Implikasi Lebih Luas Konsumsi Fruktosa Tinggi

Tim peneliti menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memahami bagaimana konsumsi fruktosa dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi kekebalan tubuh dan risiko infeksi. Hal ini terutama relevan bagi individu dengan masalah kesehatan seperti diabetes tipe II atau penyakit hati berlemak, yang berhubungan dengan gangguan metabolik.

Gula, terutama fruktosa dalam minuman manis dan permen, telah lama diduga meningkatkan risiko timbulnya penyakit metabolik. Hal ini perlu diselidiki,” ujar Bergheim.

Temuan ini menambah bukti baru. Fruktosa, terutama dari minuman dan makanan manis, tidak hanya berdampak pada metabolisme tetapi juga dapat mengubah respons kekebalan tubuh secara signifikan. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik