Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Morning Surge jadi Momen Berisiko Bagi Pasien Hipertensi

Basuki Eka Purnama
24/11/2025 17:14
Morning Surge jadi Momen Berisiko Bagi Pasien Hipertensi
Ilustrasi(Freepik)

DOKTER Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Tunggul Diapari Situmorang, Sp.PD-KGH, mengingatkan masyarakat waspada terhadap risiko lonjakan tekanan darah pada pagi hari atau morning surge yang menjadi salah satu pemicu utama stroke dan serangan jantung pada pasien hipertensi.

Ia mengatakan, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap hipertensi membuat banyak pasien tidak mengetahui kondisi diri mereka hingga mengalami komplikasi.

"Hipertensi dijuluki the silent killer bukan tanpa alasan. Kondisi ini sering tidak bergejala, tetapi diam-diam dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal, otak, dan pembuluh darah," kata Tunggul, dikutip Senin (24/11).

Tunggul menjelaskan bahwa tekanan darah mengikuti ritme sirkadian tubuh dan fase paling kritis terjadi pada pukul 06.00 hingga 10.00.

Ia menyebut, lonjakan tekanan darah setelah bangun tidur dapat memicu stroke atau serangan jantung, terutama pada pasien hipertensi derajat 2 dan 3.

Ia menekankan pentingnya pemeriksaan rutin tekanan darah pada pagi dan malam hari, mencatat hasilnya, serta mengonsumsi obat antihipertensi jika diperlukan.

Dokter lulusan Universitas Indonesia (UI) itu menyoroti proporsi pasien hipertensi yang belum terkendali di Indonesia masih sangat besar, yakni 81,1%.

"Bahkan, sebagian besar pasien baru menyadari mereka mengidap hipertensi setelah mengalami komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung," ujarnya.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat terdapat 1,4 miliar penyandang hipertensi secara global, namun hanya 23% yang memiliki tekanan darah terkontrol.

Di Indonesia, prevalensi hipertensi mencapai 30,8% pada penduduk berusia di atas 18 tahun, sementara hanya 18,9% yang berhasil mengendalikan tekanan darah mereka.

Tunggul menegaskan bahwa kendali hipertensi tidak hanya bergantung pada dokter, melainkan pada kedisiplinan pasien.

Menurut dia, dokter hanya dapat menilai kondisi dan menyesuaikan terapi berdasarkan data yang diberikan pasien.

Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat menjalani gaya hidup sehat dengan menjaga berat badan ideal, membatasi garam, rutin berolahraga 30 menit selama 3 hingga 5 hari per minggu, serta berhenti merokok.

"Penurunan kecil tekanan darah pun berdampak signifikan. Penurunan 10 mmHg tekanan darah sistolik dapat mengurangi risiko stroke, kejadian kardiovaskular hingga gagal jantung," pungkas Tunggul. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik