Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kapulaga, Rempah Mahal yang Paling Sulit Dibudidayakan

Thalatie K Yani
21/11/2025 12:20
Kapulaga, Rempah Mahal yang Paling Sulit Dibudidayakan
Ilustrasi(freepik)

KAPULAGA telah lama dikenal sebagai rempah bernilai tinggi dengan aroma kompleks yang khas. Di balik harganya yang menggiurkan, tanaman ini termasuk yang paling sulit dibudidayakan. 

“Banyak orang mengira kapulaga adalah tanaman yang menguntungkan, mungkin benar. Tapi ini juga tanaman paling sulit yang bisa ditanam petani,” kata Stanley Pothan, petani kapulaga berpengalaman dari Kerala, India.

Menurutnya, kapulaga sangat rentan terhadap penyakit dan hama. Tanaman ini juga menuntut perhatian penuh. “Anda harus selalu berada di kebun, memperhatikan setiap daun dan bunga. Kapulaga menuntut perhatian setiap hari,” ujarnya.

Cuaca menjadi tantangan terbesar. “Musim panas tahun lalu sangat brutal, kami kehilangan sebagian besar tanaman akibat panas. Guatemala kehilangan hampir 60% produksinya saat itu, dan kami juga menderita di Kerala,” kata Pothan. Kondisi tersebut turut mendorong harga kapulaga naik 70% menjadi 1.178 rupee per kilogram, menurut Dewan Rempah India.

Upaya Menghadirkan Varietas Tahan Iklim

Untuk membantu petani, Indian Cardamom Research Institute (ICRI) melakukan riset peningkatan varietas, pemantauan penyakit, hingga manajemen tanah. “Fokus kami adalah perbaikan tanaman, surveilans hama dan penyakit, manajemen tanah, penguatan kapasitas, serta transfer teknologi,” ujar A.B. Rameshwari, Direktur ICRI.

Salah satu inovasinya adalah aplikasi yang membantu petani memantau kesehatan tanah dan mendapatkan rekomendasi pengelolaan lahan. “Teknologi kini menjadi alat harian petani kapulaga," kata Dr Rameshwari.

Para ilmuwan juga tengah mencari varietas yang lebih tahan penyakit, lebih produktif, dan lebih tahan perubahan iklim. “Kami fokus mengembangkan varietas yang toleran terhadap penyakit utama, hama, serta tahan iklim,” kata Preity Chetty dari Kerala Agricultural University. Timnya juga meneliti penanda genetik untuk mempercepat proses pemuliaan.

Inovasi Pengeringan dan Tantangan Petani Organik

Pengeringan polong menjadi proses penting. Annu Sunny, pendiri Graamya, memperkenalkan pengering berbasis heat-pump untuk membantu petani kecil. Biaya pengeringan turun dari 14 menjadi 10 rupee per kilogram, dengan hasil warna lebih baik, faktor penting yang menentukan harga.

Namun tidak semua inovasi berjalan mudah. Petani organik seperti Mathews George mengalami kerugian besar sebelum menemukan metode tradisional Vrikshayurveda. “Saya tidak tahu apa yang saya hadapi,” katanya. Meski kini lebih berhasil, ia mengaku budidaya kapulaga tetap penuh tantangan.

Biaya Tenaga Kerja Tetap yang Tertinggi

Pothan menyebut 75% biaya produksinya adalah tenaga kerja, terutama saat panen. “Memetik kapulaga adalah pekerjaan terampil, biasanya dilakukan perempuan. Mereka tahu persis mana yang siap panen,” ujarnya.

Meski banyak proses bisa dimodernisasi, panen dan pemangkasan tetap sulit digantikan mesin. “Setiap inovator bilang akan menyelesaikan masalah ini, tapi belum ada hasil,” kata Sunny. Pothan menambahkan, “Tidak ada jalan pintas dalam kapulaga. Ini tanaman yang butuh ilmu sekaligus rasa.” (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya