Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Mahasiswa Columbia Asal Indonesia Dorong Kesetaraan Digital Lewat One Young World

Basuki Eka Purnama
18/11/2025 16:31
Mahasiswa Columbia Asal Indonesia Dorong Kesetaraan Digital Lewat One Young World
Mahasiswa Columbia University asal Indonesia, Glory Lamria Aritonang (tengah) saat ambil bagian di ajang One Young World Summit 2025 di Muenchen, Jerman.(MI/HO)

DI tengah meningkatnya kesenjangan akses digital di dunia, mahasiswa Columbia University asal Indonesia, Glory Lamria Aritonang, tampil membawa gagasan bahwa akses internet dan literasi digital adalah bagian dari hak asasi manusia. 

Gagasan tersebut ia sampaikan dalam forum global One Young World Summit 2025 di Muenchen, Jerman, Oktober 2025, yang dihadiri lebih dari 1.000 pemimpin muda dari berbagai negara.

Melalui inisiatif sosialnya, ChapterOne Indonesia, Glory berfokus pada kesetaraan digital bagi perempuan dan anak muda di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). 

Ia percaya bahwa literasi digital tidak hanya tentang kemampuan teknologi, tetapi juga tentang keadilan sosial dan peluang yang setara untuk berkembang.

“Literasi digital bukan sekadar soal teknologi, tetapi tentang martabat manusia. Anak perempuan di daerah terpencil berhak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berinovasi, dan bermimpi,” ujar Glory.

Forum Global Pemimpin Muda Dunia

One Young World (OYW) adalah organisasi nirlaba internasional yang sejak tahun 2010 telah mempertemukan pemimpin muda paling cemerlang dari seluruh dunia, dengan tujuan memberdayakan mereka untuk menciptakan dampak positif secara global.

Kerap dijuluki sebagai “Young Davos”, forum ini menjadi wadah untuk merespons tantangan besar dunia, mulai dari perubahan iklim, ketimpangan gender, hingga krisis pengungsi.

Proses seleksi menuju One Young World Summit sangat kompetitif. Untuk beberapa kategori tingkat penerimaannya bahkan di bawah 1%.

Sejumlah tokoh dunia pernah menjadi pembicara di forum ini, di antaranya Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, peraih Nobel Perdamaian Muhammad Yunus, Meghan Markle, Terry Crews, Jane Goodall, Cher, dan mantan Presiden Irlandia Mary Robinson.

Dampak dan Visi Jangka Panjang

Melalui keterlibatannya di forum global tersebut, Glory berharap dapat mengangkat kesadaran internasional bahwa kesenjangan digital adalah bentuk baru dari ketidaksetaraan sosial. 

Visi jangka panjangnya adalah mendorong kebijakan publik yang berpihak pada literasi digital perempuan dan anak muda, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal dalam pembangunan infrastruktur teknologi.

“Keadilan digital adalah fondasi masa depan. Dunia tidak bisa berbicara tentang pembangunan berkelanjutan tanpa memastikan setiap anak muda memiliki akses yang setara terhadap informasi dan pengetahuan,” tegasnya.

Dengan partisipasinya di One Young World, Glory membawa suara Indonesia ke panggung global dan memperlihatkan bahwa inovasi sosial dapat lahir dari empati, bukan hanya dari teknologi. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya