Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PUASA kerap menjadi sorotan, tetapi sebagian besar laporan hanya berfokus pada beberapa parameter laboratorium dasar. Pendekatan ini dinilai terlalu menyempitkan proses biologis yang jauh lebih kompleks. Untuk memahami lebih dalam bagaimana tubuh beradaptasi tanpa asupan kalori selama satu minggu penuh, sekelompok ilmuwan merancang studi yang memantau berbagai sinyal tubuh secara bersamaan, dari hari ke hari.
Penelitian yang dilakukan di Queen Mary’s Precision Healthcare University Research Institute (PHURI) bersama Norwegian School of Sports Sciences ini melibatkan 12 orang dewasa sehat yang menjalani puasa air selama tujuh hari di bawah pengawasan. Sampel darah dikumpulkan sebelum puasa, setiap hari selama puasa, dan setelahnya.
Alih-alih hanya mengukur glukosa atau kolesterol, peneliti menganalisis sekitar 3.000 protein menggunakan metode proteomik. Pendekatan ini memungkinkan mereka memetakan naik turunnya berbagai molekul penting dalam tubuh secara rinci, sekaligus menghubungkan setiap hari puasa dengan perubahan biokimia tertentu.
Protein berperan mengatur reaksi, membawa sinyal, hingga mempertahankan struktur jaringan. Dengan melihat ribuan protein sekaligus, peneliti dapat menyusun “timeline” perubahan biologis selama tubuh tidak mendapat kalori.
Temuan menunjukkan tubuh tidak langsung memasuki “mode puasa” pada hari pertama. Pergeseran awal masih ringan dan tersebar. Perubahan paling besar dan terkoordinasi muncul pada hari ketiga dan berlanjut hingga akhir minggu.
Peneliti mengidentifikasi sembilan pola perubahan protein, mulai dari yang meningkat stabil, menurun cepat, hingga yang melonjak pada titik tertentu sebelum kembali mendekati kondisi awal. Secara keseluruhan, lebih dari 1.000 protein berubah signifikan, mencerminkan konservasi energi, pergeseran sumber bahan bakar, hingga upaya tubuh melindungi jaringan penting.
Salah satu sinyal mencolok berasal dari protein penyusun matriks ekstraseluler, jaringan pendukung yang mengatur struktur dan komunikasi antar sel. Perubahan pada kelompok protein ini menunjukkan puasa memengaruhi bukan hanya jalur energi, tetapi juga komponen struktural.
Satu protein, Tenascin-R, menarik perhatian karena biasanya dikaitkan dengan sistem saraf. Perubahannya selama puasa memunculkan pertanyaan baru mengenai potensi dampak kekurangan kalori terhadap komunikasi di jaringan saraf.
Beberapa hormon juga mengalami perubahan penting. Leptin menurun seiring berjalannya puasa, sementara reseptornya meningkat, mengindikasikan sensitivitas yang lebih tinggi saat sinyal penyimpanan energi melemah. FGF21 naik, selaras dengan peningkatan penggunaan lemak dan keton. Follistatin meningkat, sementara adiponektin cenderung menurun.
Perubahan ini menggambarkan tubuh yang beralih dari penyimpanan energi menjadi memobilisasi cadangan internal.
Dalam periode puasa, rata-rata peserta kehilangan sekitar 5,7 kilogram. Pemeriksaan DXA menunjukkan perubahan pada massa lemak dan jaringan tanpa lemak, sementara pengukuran nitrogen urin menunjukkan penurunan ekskresi, tanda tubuh mulai menghemat protein setelah beberapa hari.
Seperti yang diperkirakan, penggunaan energi mengikuti pola klasik, karbohidrat dibakar lebih dulu, kemudian tubuh beralih ke lemak dan keton.
Para peneliti menekankan puasa air tujuh hari merupakan praktik ekstrem dan dalam studi ini dilakukan dengan pengawasan medis ketat. Temuan tidak dimaksudkan sebagai panduan praktik puasa.
Nilai utama penelitian ini adalah peta rinci bagaimana tubuh menyesuaikan diri saat tidak menerima kalori. Data tersebut membuka peluang mengembangkan intervensi terapeutik yang meniru manfaat puasa tanpa menuntut seseorang berhenti makan selama satu minggu penuh. (Earth/Z-2)
Simak tinjauan medis manfaat Puasa Daud bagi metabolisme. Dari proses autofagi hingga sensitivitas insulin, temukan alasan mengapa pola ini sangat sehat.
Masalah ini tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak, dengan manifestasi klinis mulai dari jerawat persisten hingga gangguan kesuburan.
Perubahan kecil yang disengaja dalam kebiasaan sehari-hari, dimulai dari nutrisi, gerakan, dan istirahat dapat memberikan dampak yang signifikan.
Seorang ilmuwan perempuan terkemuka justru mengungkap fakta tren kesehatan tidak semua aman bagi tubuh wanita.
Kenali 9 kebiasaan buruk yang merusak usus seperti konsumsi gula berlebih, kurang serat, hingga stres kronis. Cegah sejak dini demi pencernaan sehat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved