Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini varises sering dianggap sekedar masalah kosmetik. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penyakit vena kronis dengan kesehatan jantung dan sistem pembuluh darah.
Pasien dengan varises memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan aliran darah, pembekuan darah, bahkan jadi prediktor penyakit jantung.
Spesialis dermatologi, venerologi dan estetika dari Jakarta Varices Clinic (JVC) Nana Novia Jayadi mengatakan banyak pengidap varises justru mengalami berbagai gejala yang mengganggu aktivitas.
Sensasi berat atau pegal di kaki adalah keluhan paling umum, terutama setelah berdiri atau berjalan dalam waktu lama. Beberapa orang juga mengeluhkan rasa nyeri, kram di malam hari, atau pembengkakan di sekitar pergelangan kaki.
"Sayangnya, karena sering dianggap hanya sebagai gangguan estetika, banyak orang tidak menyadari varises bisa berkembang jadi komplikasi medis lebih serius. Padahal, semakin dini kondisi ini ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah perburukan," kata Nana pada perayaan hari jadi ke-2 JVC, di Jakarta, Sabtu (15/11).
Nana menambahkan ada beberapa bentuk penanganan varises, mulai dari skrining, diagnosis, terapi, hingga pencegahan. Di antaranya, melalui US-IR guided sclerotherapy, endovenous ablation, terapi kompresi, dan teknologi cryolaser sclerotherapy.
"Teknologi cryolaser sclerotherapy merupakan inovasi terapi varises yang nyaman dan aman. Kini sedang berkembang di Eropa dan telah hadir di Indonesia dengan JVC sebagai pelopornya," pungkas Nana.
Pada kesempatan sama, Founder JVC Vito A Damay mengembangkan konsep Wellness Phlebology sebagai salah satu upaya penanganan varises. Konsep ini merupakan pendekatan integratif yang menempatkan varises sebagai bagian dari sistem kardiovaskular yang utuh.
"Pendekatan ini menggabungkan diagnosis yang presisi, terapi berbasis teknologi minimal invasif, serta penerapan pola hidup sehat melalui kerja sama tim dokter multidisiplin yang berfokus pada kesehatan vena dan jantung," kata Vito.
Dengan latar belakang sebagai spesialis jantung dan pembuluh darah serta pemegang sertifikasi phlebology Eropa, pada perayaan hari jadi ke-2 JVC tersebut, Vito turut memberikan Phlebology Course 2025 dan meluncurkan buku Phlebology: Diagnosis dan Terapi Varises.
Buku ini menjadi referensi komprehensif bagi tenaga medis untuk bidang phlebology yaitu ilmu yang mempelajari pembuluh darah vena termasuk varises.
Di dalamnya dibahas mulai dari anatomi dan fisiologi, standar diagnosis terkini menggunakan ultrasonografi, hingga beragam pilihan terapi varises modern tanpa operasi seperti terapi kompresi, skleroterapi, ablasi endovena, dan teknologi mutakhir cryolaser therapy.
“Buku Phlebology: Diagnosis dan Terapi Varises ini kami hadirkan sebagai upaya memperluas wawasan tenaga medis di bidang penyakit varises. Berdasarkan data ilmiah dan pengalaman saya lebih dari 11 tahun di bidang ini, varises memang bukan sekadar masalah kosmetik, melainkan bagian dari penyakit pembuluh darah yang perlu dikenali dan ditangani sedini mungkin," tutup Vito. (H-2)
BANYAK orang menganggap varises hanya sebagai masalah penampilan karena tampak seperti pembuluh darah yang menonjol di permukaan kulit, padahal bisa berbahaya dan mengancam nyawa.
Penelitian terbaru membuktikan berdiri terlalu lama di meja berdiri tidak selalu menyehatkan. Kuncinya adalah rutin bergerak, peregangan, dan aktivitas ringan sepanjang hari.
BANYAK orang menganggap varises hanya sebagai masalah penampilan karena tampak seperti pembuluh darah yang menonjol di permukaan kulit, padahal bisa berbahaya dan mengancam nyawa.
Varises adalah kondisi saat pembuluh darah vena membengkak, membesar, dan tampak menonjol di bawah permukaan kulit.
Orang yang berisiko mengalami varises ialah lansia, orang dengan obesitas, ibu hamil, dan orang yang memiliki kebiasaan berdiri atau duduk dalam jangka waktu yang terlalu lama.
Varises terjadi karena aliran balik darah untuk kembali ke jantung tidak terpompa dengan baik, tidak seperti ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved