Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

​​​​​​​Guru Besar UNJ Desak Kaum Muda Rekonstruksi Gerakan Kebangsaan

Despian Nurhidayat
15/11/2025 14:54
​​​​​​​Guru Besar UNJ Desak Kaum Muda Rekonstruksi Gerakan Kebangsaan
Guru Besar UNJ Abdul Haris Fatgehipon(UNJ)

Guru Besar Damai dan Resolusi Konflik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Abdul Haris Fatgehipon, menegaskan perlunya rekonstruksi gerakan kebangsaan dengan menempatkan pemuda sebagai aktor utama. Hal tersebut disampaikan dalam paparannya berjudul Rekonstruksi Gerakan Kebangsaan pada Musyawarah Kerja (Muker) Aliansi BEM se-Bogor Raya di Bogor, Sabtu (15/11).

Haris menekankan bahwa sejarah pergerakan bangsa tidak dapat dipisahkan dari peran pemuda dan mahasiswa. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, revolusi, hingga dinamika politik pada era Presiden Soekarno dan Soeharto, militansi generasi muda selalu menjadi motor perubahan.

“Pemuda dan mahasiswa adalah penggerak perubahan. Namun hari ini, seolah mereka hanya menjadi penonton, bahkan kerap dianggap beban pembangunan,” ujar Haris.

Ia menilai banyak organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan kini terjebak dalam konflik internal dan tidak lagi menjunjung tinggi tradisi musyawarah. Selain itu, proses regenerasi politik dinilai tidak berjalan ideal karena lebih banyak memberi ruang bagi mereka yang memiliki latar belakang keluarga politik dibandingkan yang berangkat dari ideologi atau kapasitas.

“Hal ini melemahkan peran pemuda dan mahasiswa sebagai agen perubahan. Padahal tantangan bangsa saat ini semakin kompleks,” katanya.

Dalam paparannya, Haris mengurai berbagai persoalan nasional yang menurutnya mendesak untuk ditangani dan membutuhkan partisipasi aktif generasi muda.

“Penurunan daya beli, kemiskinan, tingginya pengangguran, korupsi, judi online, narkoba, hingga dominasi ekonomi oligarki harus menjadi agenda perjuangan mahasiswa hari ini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti isu lain yang menurutnya harus masuk dalam fokus gerakan kebangsaan generasi muda.

“Saya sangat prihatin terhadap kesenjangan pendidikan, meningkatnya kriminalitas, melemahnya solidaritas sosial, sampai persoalan kekerasan kelompok separatis di Papua yang memakan korban sipil maupun aparat,” tegasnya.

Menurut Haris, berbagai persoalan tersebut tidak dapat dibiarkan berlarut-larut dan memerlukan keterlibatan aktif pemuda serta mahasiswa dalam mendorong perubahan.

“Pemuda dan mahasiswa harus hadir, tidak hanya berpendapat dari jauh. Mereka harus mengambil peran strategis sebagai penggerak perubahan,” tandasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik