Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Studi: Lebih dari 80% Pasien Tuberkulosis tidak Mengalami Batuk Menetap

Atalya Puspa    
14/11/2025 11:35
Studi: Lebih dari 80% Pasien Tuberkulosis tidak Mengalami Batuk Menetap
Ilustrasi(Freepik.com)

LEBIH dari 80 persen penderita tuberkulosis (TB) lternyata tidak mengalami batuk menetap, meskipun gejala itu selama ini dianggap sebagai tanda utama TB. Penelitian baru yang dipimpin Amsterdam UMC dan Amsterdam Institute for Global Health and Development menemukan bahwa 82,8 persen pasien TB tidak memiliki batuk yang berlangsung lama, dan 62,5 persen sama sekali tidak batuk. Temuan ini dipublikasikan di The Lancet Infectious Diseases.

TB dikenal menular terutama melalui batuk, tetapi para peneliti mengingatkan bahwa penularan kemungkinan juga dapat terjadi hanya melalui napas. Studi ini menganalisis data lebih dari 600 ribu orang di Afrika dan Asia dan menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan.

“Hasil kami menunjukkan alasan mengapa, meskipun upaya besar untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit ini, beban TB di Afrika dan Asia hampir tidak menurun,” kata Frank Cobelens, Profesor Kesehatan Global di Amsterdam UMC. 

“Kita sudah tahu ada kesenjangan besar antara 10,6 juta orang yang jatuh sakit akibat Tb dan 7,5 juta kasus yang tercatat oleh otoritas kesehatan pada 2022," imbuh dia. 

Menurut Cobelens, ketergantungan pada gejala batuk untuk mendeteksi penyakit adalah masalah besar. “Batuk yang menetap sering menjadi pintu masuk diagnosis, tetapi jika 80 persen penderita TB tidak mengalaminya, diagnosis akan terjadi lebih lambat, mungkin setelah infeksi ditularkan ke banyak orang lain, atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali," jelasnya. 

Analisis dalam penelitian tersebut mencakup 12 negara dengan program pemantauan nasional. Selain tingginya jumlah pasien tanpa batuk, peneliti juga menemukan bahwa lebih dari seperempat penderita Tb tidak menunjukkan gejala apa pun. Fenomena ini lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Lebih jauh lagi, seperempat pasien yang tidak batuk ternyata memiliki jumlah bakteri tinggi dalam dahaknya, sehingga kemungkinan besar sangat menular.

“Jika kita mempertimbangkan semua faktor ini, sudah jelas bahwa kita perlu benar-benar memikirkan kembali cara mengidentifikasi orang dengan Tb,” ujar Cobelens. 

“Praktik yang ada saat ini, terutama di negara dengan sumber daya sangat terbatas, akan melewatkan banyak pasien Tb. Kita seharusnya fokus pada skrining X-ray dan pengembangan tes baru yang murah serta mudah digunakan," imbuh dia. 

Temuan ini menegaskan bahwa strategi global untuk menekan angka penularan TB membutuhkan pendekatan baru, terutama karena sebagian besar orang yang membawa bakteri TB tidak menunjukkan gejala klasik seperti batuk. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya