Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di berbagai daerah dalam sepekan mendatang.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan, peningkatan curah hujan dipicu oleh pengaruh sejumlah fenomena atmosfer berskala global, regional, hingga lokal yang tengah aktif secara bersamaan. Kondisi itu diperkirakan memperbesar potensi hujan lebat, banjir, tanah longsor, serta angin kencang di sejumlah wilayah.
“Beberapa faktor utama yang berperan dalam dinamika cuaca periode ini antara lain Siklon Tropis FUNG-WONG, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), serta gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Ekuator yang masih aktif di wilayah Indonesia hingga pertengahan November,” ujar Guswanto dalam keterangan resmi, Rabu (12/11).
Siklon Tropis Fung-Wong yang saat ini berada di Laut Filipina bagian timur dan bergerak ke barat laut menuju Luzon, menurut BMKG, memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan pertumbuhan awan hujan dan kecepatan angin lebih dari 25 knot di wilayah Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian utara.
Selain itu, aktivitas MJO fase 5 (Maritime Continent) yang berinteraksi dengan gelombang Rossby Ekuator dan Kelvin turut memperkuat potensi pembentukan awan konvektif di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan timur selama sepekan ini.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menyebutkan potensi cuaca ekstrem signifikan diprakirakan terjadi hingga 16 November 2025. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi melanda sebagian besar wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, DKI Jakarta, DIY, Bali, dan Nusa Tenggara.
Sementara potensi hujan lebat–sangat lebat dengan status siaga diprediksi terjadi di Aceh, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Maluku Utara, serta sejumlah wilayah di Papua. Adapun potensi angin kencang berpeluang terjadi di Banten, Bengkulu, Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat.
Pada 13–16 November, hujan lebat–sangat lebat masih berpotensi terjadi di Bengkulu, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Cuaca dengan intensitas sedang–lebat juga diperkirakan meluas di berbagai daerah lain, mulai dari Aceh hingga Maluku.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan saluran air berfungsi dengan baik guna mengurangi risiko genangan dan banjir. Nelayan dan pengguna transportasi laut pun diingatkan untuk mewaspadai gelombang tinggi di perairan Samudra Hindia barat Sumatra–selatan Jawa, Laut Banda, Laut Flores, dan Laut Arafura. (M-1)
BMKG menyebutkan potensi cuaca ekstrem signifikan diprakirakan terjadi di berbagai wilayah di Indonesia hingga 16 November 2025.
TOPAN Fung-Wong baru melanda Filipina. Apa pengaruh topan Fung-Wong terhadap cuaca ekstrem di Indonesia? Deputi BMKG Guswanto menjelaskan peningkatan curah hujan dipicu dinamika atmosfer
TOPAN Fung-wong melanda Filipina bagian barat laut, Senin (10/11), menewaskan setidaknya dua orang. Pengumuman badai membuat 1,4 juta orang mengungsi
TOPAN Fung-wong yang melemah meninggalkan Filipina dan bergerak ke Taiwan, Senin (10/11). Pemerintah setempat menyampaikan Topan Fung-Wong menyebabkan 1,4 juta orang dievakuasi
TOPAN kuat Fung Wong melanda wilayah timur laut Filipina pada Minggu (9/11) malam, membawa angin kencang, hujan deras dan risiko banjir besar di Pulau Luzon saat badai bergerak ke arah barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved