Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
UNIVERSITAS Diponegoro (Undip) terus mendorong riset aplikatif dalam bidang ketahanan pangan dan energi berkelanjutan. Salah satu inovatornya adalah Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.Eng., Guru Besar Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP, yang dikenal melalui risetnya tentang teknologi pengeringan ramah lingkungan dan konsep smart food.
Prof. Djaeni menjelaskan, pengeringan merupakan teknologi klasik yang masih memerlukan inovasi agar efisien dan tidak merusak nutrisi bahan pangan. Ia bersama tim mengembangkan sistem pengeringan udara kering (dehumidifikasi) menggunakan adsorben alami seperti zeolit dan silika. Teknologi ini mempercepat proses pengeringan pada suhu rendah, menjaga kualitas gizi, dan menghemat energi.
“Dengan kontrol kelembapan yang tepat, pengeringan bisa lebih cepat tanpa merusak gizi bahan,” ujarnya.
Selain itu, Prof. Djaeni juga mengembangkan smart food, yaitu makanan bernutrisi tinggi dengan konsep slow release—dicerna secara perlahan untuk memberikan energi lebih lama. Penelitian ini berbasis beras analog, umbi-umbian, sorgum, dan jagung, yang dinilai potensial sebagai solusi masa depan pangan di tengah keterbatasan lahan dan urbanisasi.
“Bayangkan satu porsi makanan mampu menjaga energi tubuh selama belasan jam tanpa kehilangan kandungan gizinya,” ungkapnya.
Inovasi ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga bermanfaat bagi sektor kesehatan, seperti untuk pasien pra-operasi atau masyarakat yang sedang berpuasa.
Riset Prof. Djaeni sejalan dengan misi Undip dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Goal 2 (Ketahanan Pangan) dan Goal 7 (Energi Bersih). Ia juga menjalin kolaborasi riset internasional dengan University of Nottingham Malaysia Campus, IIUM, USIM, dan UTM untuk memperluas dampak penelitian.
“Inovasi lahir dari kolaborasi lintas disiplin antara teknik, pangan, dan kesehatan,” ujarnya.
Bagi Prof. Djaeni, penelitian bukan sekadar publikasi, tetapi tanggung jawab akademik untuk kemaslahatan manusia dan keberlanjutan bumi. “Impossible is nothing. Selama ada keyakinan, dedikasi, dan kolaborasi, setiap gagasan bisa diwujudkan menjadi solusi nyata,” tuturnya.
Melalui karya dan dedikasinya, Prof. Djaeni menjadi contoh nyata semangat Undip Bermartabat dan Undip Bermanfaat, menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan masa depan pangan berkelanjutan.(H-2)
Sejumlah siswa mengemas sayuran pakcoy hasil budidaya dengan metode hidroponik di SMK Pawyatan Daha 2, Kota Kediri, Jawa Timur.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya mendorong regenerasi petani yang menjadi perhatian nasional.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan target swasembada pangan. Cadangan beras nasional di Perum Bulog mencapai 4,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
PRODUKSI gabah kering giling (GKG) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang 2025 hampir menembus angka 1 juta ton. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan ketahanan pangan.
Firman Soebagyo kritik impor garam Australia dan nilai pemerintah lemah lindungi petani lokal. Komisi IV DPR desak bangun industri garam nasional.
GP Ansor melakukan panen padi organik di Kabupaten Blora, sekaligus menanam 3.000 pohon kelapa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved